Dilahirkan di Aceh Besar dengan nama Muhammad Ali, putra
dari Teungku Basyim dan Cut Beuleun ini, selain disebut sebagai pilitisi tiga
zaman (Rusdi Sufi & Agus Bidi Wibowo, 'Tokoh-tokoh
Pendidikan di Aceh Awal' Abad XX, Banda Aceh: Badan Perpustakaan Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam, 2007 h. 114-115), Ali Hasjmy juga juga dikenal
sebagai penulis dan pendakwah. Sebagai politikus beliau banyak melakukan
pergerakan sejak usia muda hingga menjadi Gubernur Aceh pada tahun 1957.
Transisi masyarakat dari keadaan konflik DI/TII kepada keadaan damai adalah
salah satu tugas beliau terbesar sebagai seorang kepala pemerintah daerah. Pada
masa pemerintahannya, Masjid Raya Baiturrahman mengalami pemugaran yang luar
biasa.
Ali Hasjmy amat
sangat besar perhatiannya pada upaya pencerdasan anak bangsa. Beliau
mengkonsepkan dan mendirikan komplek pendidikan di Darussalam yang dikenal
dengan Kopelma. Dua perguruan tinggi terbesar di Aceh, IAIN Ar-Raniry dan
Universitas Syiah Kuala, berdiri di sana. Dua Universitas itu adalah kebanggaan
masyarakat Aceh hingga digelari Jantong
Hetee, atau jantung hati masyarakat Aceh.
Ali Hasjmy juga
sempat menjadi Rektor IAIN Ar-Raniry. Pada perguruan tinggi itu juga beliau
dianugerahi gelar Guru Besar bidang
Dakwah. Kepabelitas dan kontribusinya yang besar menyebabkan Ali layak
mendapatkan gelar tersebut.
Sebagai
iltelektual, Ali menguasai berbagai disiplin ilmu meski kebanyakan
dipelajarinya secara otodidak. Beliau sempat bersekolah di sekolah rendah milik
Belanda, lalu melanjutkan di Thawalib Padang Panjang, kemudian kenbali Ke
Seulimum untuk mengajar. Selanjutnya kembali ke Tanah Minang untuk kuliah di
Kuliyah Islamiyah Padang. Saat kembali ke Seulimum lagi, Ali menjadi pimpinan
sekolah di sana. Ali pernah kuliah di UISU Medan, namun tidak tamat. Itu tidak
membuatnya berhenti mencintai ilmu. Ali terus belajar dan belajar.
Ali Hasjmy adalah
salah satu dari sekian masyarakat Indonesia yang begitu mencintai bangsanya.
Dia turut mengorbankan apapun yang ia miliki demi kabaikan Tanah Air. Dia ambil
andil yang sangat besar dalam melawan penjajah Belanda. Bersama rekan-rekannya
dia mengupayakan penyadaran pada masyarakat melalui media massa.
Tidak hanya itu,
dia juga ikut memimpin pasukan untuk menyarang pusat-pusat pertahanan Belanda.
Ali punya bukti bahwa satu-satunya wilayah Nusantara yang tidak sempat dijajah
Belanda adalah Aceh. Sekalipun Sulthan Aceh Darussalam terakhir, Muhammad Daud,
sempat ditangkap dan diasingkan keluar Sumatera, Sulthan tidak pernah menandatangani
penyerahan kekuasaan kepada Belanda. Selain itu, perlawanan masyarakat juga
terus terjadi di seluruh pelosok Tanah Aceh.
Aceh dikenal
sebagai pusat pembelajaran ilmu agama Islam sejak lama. Ini mengindikasikan
telah berdirinya lembaga pengajaran Islam sejak lama. Saya meyakini bahwa
pondok pesantren di Aceh yang dikenal dengan sebutan 'dayah' adalah asimilasi dari tempat pengasuhan dan pengajaran
shaolin pada masa sebelum agama Islam. Setelah ulama-aulia datang ke Aceh untuk
menyebarkan agama Islam, maka mereka membujuk para pemimpin lembaga itu untuk
masuk Islam. Selanjutnya semua murid yang diasuh diislamkan dan pengajaran
agama pada mereka mengikupi pola pengajaran hikmah agama sebelum Islam.
Dalam 'Bunga Rampai Revolusi dari Tanah Aceh' Ali Hasjmy mengatakan bahwa pengertian
pendidikan adalah : Penanaman rasa
kesadaran beriman dan beramal shalih yang berdasarkan ilmu pengetahuan,
sehingga karenanya manusia menjadi makhluk sosiaal yang menghayati
ajaran-ajaran Islam.... (1976: 52). Iman adan amal shalih mensyaratkan
adanya kesadaran. Iman dan amal shalih adalah hal mustahil tanpa adanya
kesadaran. Ketika memakai kata 'menghayati'
seharusnya tidak perlu lagi dipakai ''dalam segala bidang kehidupan'' karena
kata itu artinya: menyatuya sikap, tindakan dan pikiran dalam jiwa sehingga
sudah pasti mengada dalam setiap nafas.
Ali (ibid, h.
53) menemukakan setidaknya ada empat tujuan pendidikan. Pertama, membina manusia yang beriman dan beramal shalih sehingga
memenuhi syarat menjadi khalifatullah untuk memakmurkan bumi. Kedua, Membina
manusia yang berbuat baik dan mentang keburukan. Ketiga, membina manusia yang
mampu melaksanakan dakwah Islam. Dan keempat,
membina manusia yang mampu membela kepentingan kaum lemah. Salah satu sebab dijadikannya
bahasa Melayu sebagai bahasa resmi Indonesia adalah karena bahasa inilah yang
dijadikan bahasa pendidikan di Aceh. Karena pelajar se-Nusantara diajarkan
dengan bahasa Melayu lalu mereka mengajarkan dengan bahasa yang sama di tempat
masing-masing sepulang belajar, maka menyebarlah bahasa Melayu ke segenap
pelosok Nusantara.
Di Aceh, kata
Ali ( h. 65) terdapat tiga lembaga
pelaksana pendidikan sesuai termaktub dalam Hukum Kerajaan Aceh Darussalam
(Kanun Meukuta Alam). Pertama adalah Balai Setia Hukama, sebagai balai tempat
berkumpulnya ulama dan ahli pikir pendidikan untuk membahas dan mengembangkan
pendidikan. Balai Setia Ulama adalah jawatan Pendidikan/Pengajaran yang
bertugas mengurus urusan-urusan pendidikan. Terakhir adalah Balai Jama'ah
Himpunan Ulama, balai ini semacam study club tempat ulama/sarjana berkumpul
untuk bertukar pikiran, berseminar, membahas masalah dunia pendidikan dan ilmu
pengetahuan.
Ali menguraikan,
terdapat lima jenjang pendidikan di Aceh Darussalam. Pertama adalah meunasah. Di sinilah tempat anak-anak
mendapatkan pengajaran pendidikan pertamanya. Di sini, diajarkan dasar-dasar
agama Islam seperti bahasa Arab, membaca
Al-Qur'an, cara beribadah, akhlak, rukun Islam, rukun iman dan menyanyi.
Meunasah terletak di setiap desa. Kini, meunasah
tinggal sebagai balai pertemuan desa dan mushalla desa. Rangkang di bangun di setiap pinggir
masjid yang dibangun di setiap Mukim. Di sana disediakan penginapan dan
diajarkan fiqih, tauhid, tasawuf, sejarah dan bahasa Arab. Ini adalah
kelanjutan dari pendidikan di meunasah.
Jenjang
pendidikan selanjutnya adalah dayah. Dayah
juga kadang berada di masjid, sering juga dayang berdiri sendiri. Di setiap
dayah biasanya didirikan sebuah ruang utama yang luas dan dipakai sebagai
tempat shalat fardhu berjamaah. Semua pelajaran di dayah menggunakan kitab
berbahasa Arab. Di sana di ajarkan fiqih, mu'amalah, tauhid, tasawuf/akhlak,
geografi, sejarah dan tata negara.
Dayah Manyang atau Dayah Teungku Chik adalah
kelanjutan pendidikan dayah. Ilmu yang diajarkan seperti hukum pidana, fiqih
munakahat, hukum tatanegara, sejarah Islam, sejarah negara-negara, ilmu mantiq,
filsafat, tasawuf, ilmu falak, tafsir dan lain-lain. Ada juga dayah manyang
yang hanya berkonsenterasi mengajarkan pelajaran tertentu dari yang disebutkan
di atas.
Jami'ah Baiturrahman, kata Ali (h. 68)
hanya dibuka di ibukota kerajaan, Kutaraja (Banda Aceh) khusus bagi lulusan
Dayah Manyang. Lembaga ini adalah sebuah universitas yang membuka berbagai
fakultas seperti Fakultas Tafsir, Fakultas Kimia, Fakultas Kedokteran, Fakultas
Sejarah, Fakultas Sosial dan Politik dan Fakultas Filsafat. Tenaga pengajar di
sini tidak hanya dari dalam negeri tapi juga didatangkan dari Persia, India,
Arab dan Turki. Tapi saya curiga universitas semacam ini tidak hanya dibuka di
Kutaraja saja.
Melalui Ali Hasjmy kita menemukan fakta begitu
banyaknya disiplin yang dipelajari di Aceh, tidak hanya seperti yang terjadi
sekarang, hanya mempelajari tauhid, fiqih dan tasawuf. Lucunya,
pelajaran-pelajaran selain itu dikecam dan disebut ilmunya orang kafir. Dulunya
juga para ulama gemar menulis dan karya-karya mereka dipelajari dan banyak yang
dijadikan rujukan wajid oleh lembaga-lembaga pendidikan di seluruh Tanah Air.
Perang Aceh yang berlangsung kurang lebih
setengah abad telah menghancurkan seluruh lembaga pendidikan dan membunuh lebih
separuh jumlah warga Aceh. Di pihak Belanda sendiri kerugian yang diderita juga
luar biasa, hampir-hampir membuat Nederland Raya bangkrut. Sebab dari
perlawanan bangsa Aceh yang tidak pernah menyerah adalah karena Islam telah
menjadi satu dengan jiwa mereka.
Mengingat
perlunya pendidikan agama yang harus terus diajarkan pada generasi mendatang,
maka atas musyawarah para ulama yang sedang bergerilya, mereka memutuskan
sebagian dari mereka turun gunung untuk menghidupkan kembali aktivitas
pengajaran bagi generasi baru di antara mereka adalah Teungku Fakinah dan
Tuanku Raja Keumala. Reformasi pendidikan juga diterapkan. Belanda melarang
pengajaran ilmu-ilmu selain aqidah, ibadah dan tasawauf.
Model pendidikan
modern yang dipelajari dari kalangan reformis di Timur-tengah banyak dianut
para ulama di Aceh setelah turun gunung. Misalnya Teungku Fakinah yang banyak
mempelajari dan menerapkan model pembaruan Muhammad Abduh dari Mesir.
Selain Teungku
Fakinah, Syaikh Abdul Hamid Samalanga juga punya peran penting dalam pembaruan
pendidikan di Aceh. Karena dikejar Belanda sebab terlibat Serikat Islam (SI),
beliau melarikan diri Ke Pulau Pinah lalu terus ke Makkah. Di sana beliau
berjumpa dengan ulama dari berbagai penjuru dunia Islam seperti Irak, Mesir,
Maroko, Aljazair, India dan lainnya. Pertemuan dengan mereka menginspirasikan
beliau untuk memperbarui pendidikan di Aceh. Melalui surat Kabar terbitan
Mekkah, Ummul Kura' beliau mengirimkan pesan-pesannya kepada Tgk. H. Abdullah
Ujong Rimba. Lalu Abdullah mendiskusikan pesan ini kepada para ulama di Aceh
termasuk Tgk. Muhammad Daud Beureueh. Kemudian para ulama menyusun kurikulum pendidikan
modern bagi dayah-dayah di Aceh. Oleh Persatuan Ulama seluruh Aceh (PUSA)
didirikan jenjang pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, lalu Tsanawiyah dan Aliyah.
Mata pelajaran seperti Geografi, Kedokteran Kimia, dan beberapa pelajaran umum
lainnya kembali dimasukkan sebagai materi pelajaran.
Selain PUSA,
Muhammadiyah yang sudah melebarkan sayapnya di Aceh sejak 1920-an juga ambil
andil dalam mendirikan lembaga-lembaga pendidikan di Aceh. Pada masa itu telah
sangat banyak berdiri lembaga pendidikan. Krisis tenaga pendidik diatasi dengan
mendatangkan guru dari luar Aceh seperti Tanah Minang, Malaka dan Timur Tengah.
Satu dekade
kemudian, Aceh sudah dapat memenuhi kebutuhan pendidik setelah pemuda daerah
yang belajar ilmu pendidikan kembali dari Tanah Minang, Malaka dan Timur
Tengah. Selanjutnya lembaga pendidikan khusus untuk menghasilkan tenaga
pendidik dibangun sendiri di Aceh seperti di Banda Aceh, Selimum dan Bireuen.
Saya melihat
sampai sekarang ilmu Logoka dan Filsafat perlu di ajarkan kembali di Aceh
sebagai senjata untuk melindungi agama dari aliran-aliran yang tidak jelas
asal-muasalnya. Dulu kita pernah berjaya dengan kencangnya pembelajaran kedua
ilmu tersebut.
Ali Hasjmy
sendiri menginginkan di setiap kawasan di Aceh didirikan sebuah lingkungan yang
menjadi pusat keilmuan di mana di sana diharapkan menjadi tempat para kaum muda
mengaplikasikan potensi masing-masing yang bermanfaat bagi diri, keluarga,
negara dan yang paling penting adalah agama. Cita-cita ini telah terwujud di kawasan
Kopelma Darussalam, Banda Aceh. Adalah tugas kita selaku generasi muda untuk
mengembangkan lingkungan semacal Kopelma di daerah-daerah lain di Aceh.
Kalaupun kita
itu berhasil, maka masih belum ada apa-apanya dibandingkan perjuangan leluhur
kita dalam mengorbankan nyawa demi wibawa bangsa.
.jpg)
Saya sebut juga Alm. Ali Hasymi sebagai seorang sejarawan. Dan setelah beliau meninggal dunia, belum ada seorangpun putra Aceh yang saya rasa pantas dilekatkan titel itu.
BalasHapusSaya sepakat, Panglima.
BalasHapusBROKER TERPERCAYA
BalasHapusTRADING ONLINE INDONESIA
PILIHAN TRADER #1
- Tanpa Komisi dan Bebas Biaya Admin.
- Sistem Edukasi Professional
- Trading di peralatan apa pun
- Ada banyak alat analisis
- Sistem penarikan yang mudah dan dipercaya
- Transaksi Deposit dan Withdrawal TERCEPAT
Yukk!!! Segera bergabung di Hashtag Option trading lebih mudah dan rasakan pengalaman trading yang light.
Nikmati payout hingga 80% dan Bonus Depo pertama 10%** T&C Applied dengan minimal depo 50.000,- bebas biaya admin
Proses deposit via transfer bank lokal yang cepat dan withdrawal dengan metode yang sama
Anda juga dapat bonus Referral 1% dari profit investasi tanpa turnover......
Kunjungi website kami di www.hashtagoption.com Rasakan pengalaman trading yang luar biasa!!!