Kamis, 06 Oktober 2011

Syaikh Muda Waly

     Sebenarnya yang dicari manusia bukanlah kesenangan duniawi. Ketika kegelisahan yang datang terus-menerus, manusia mencoba mengidentifikasi penyebab kegelisahannya dan menemukan hipotesa bahwa ada suatu keinginan duniawi yang belum dicapai. Manusia lalu mencurahkan segenap potensi untuk mendapatkan keinginan duniawi itu.
   Setelah manusia berhasil mendapatkan keinginan duniawi yang dikiranya sebagai obat bagi kegelisahan yang diderita, dia memanfaatkan pendapatan dunia itu seoptiman mungkin.
   Setelah itu ternyata kegelisahannya menjadi betambah. Kali ini kegelisahan yang semakin parah itu bercampur bingung, bingung kenapa setelah yang dia kejar telah didapatkan namun kesenangan belum ditemukan juga.
   Awalnya kita mengira kegersangan jiwa yang dialami adalah karena kurangnya ilmu. Maka berangkatlah kita ke tempat yang sangat jauh untuk mengumpulkan ilmu-ilmu di sembarang kuliah, ceramah-ceramah dan seminar-seminar. Setelah pundi-pundi pengetahuan kita peroleh, kok, malah yang terasa adalah semakin gelisah.
    Terkenang kita akan Buya Syaikh Muhammad Muda Waly Al-Chalidy yang merasa kegersangan jiwa lalu meminta izin kepada ayahanda tercinta untuk berangkat ke arah Kutaraja guna menurut ajakan ruhani menuntut ilmu kepada alim ulama.
     Setiba beliau di Negeri Raja mulailah beliau mencari sesiapa yang patut dijadikannya guru. Beberapa dayah yang beliau singgah terasa kurang tepat baginya setelah bertemu dengan masing-masing guru besarnya. Mereka meminta Syaikh Muda untuk mengajar saja karena apa saja yang diajarkan di dayahnya telah Syaikh Muda punya kuasa.
     Di dayah Krueng Kale beliau hanya menginap semalam. Abu Krueng Kale merasa Muda patut mencari ilmu di tempat lain saja.          Atas petunjuk Allah Azzawajalla berangkatlah Muda ke Tanah Minang. Di sana beliau mulai belajar berbagai macam ilmu yang diajarkan di sana. Di Sekolah Normal beliau hanya bertahan tiga bulan. Muda merasa beberapa pelajaran yang diajarkan di sana bukanlah ilmu yang beliau cari, bukan ilmu yang mengantarkan pada ketenangan jiwa.
    Terbesit pikiran dari Syaikh Muda untuk kembali ke Tanah Jamu saja. Seorang teman menyarankannya supaya tinggal sekejap lagi, siapa tahu ada beberapa faidah yang datang.    Maka Muda menurut saja pinta temannya dan menetaplah beliau di Minang. Di sana banyak tetamu yang datang meminta petunjuk dan petuah atas perkara agama yang dirasa pelik. Meski usia masih muda ilmu Muda sangatlah dalam. Beliau bisa memuaskan hati sesiapa yang mencari petuah agama.
    Atas pertikaian antara kaum tua dan abangan di Barat Sumatera Syeikh muda mampu melihatnya secara bijak. Betapa tidak, di Negerinya Beliau bahkan selalu menjumpai berbagai pertikauan di bidang agama. Pertarungan pemikiran antara ahli Fiqih denga ahli sufi yang sepanjang abad terjadi sampai kini masih selalu diangkat ke permukaan oleh para ahli perguruan tinggi.
  Karena indah perangai, elok budi pekerti Muda Wali dinikahkan dengan seorang santriwati anak ulama tinggi yang juga dalam ilmu agamanya. Santriwati itu hanya menerima pinangan sesiapa yang mampu menjawab sebuah soalannya di bidang agama di mana pertanyaan itu belum mampu dijawab sesiapa ahli agama baik yang tua maupun yang muda.
 Datanglah Buya menghadap calon istri dan ternyata beliau mampu menjawab soalan itu.Dipersungtinglah seorang gadis Minang yang dalam ilmu agama dan cantik parasnya. Perempuan seperti itu adalah segala kesenangan dunia terbaik yang pernah ada.
    Secara lahiriyah pendidikan Syaikh memang terlihat kurang beraturan. Namun tidak begitu dalam pandangan Allah, Dia tahu ilmu yang layak bagi hamba yang Dia cintai. Jadi Allah sudah tentu mengatur rapi kebutuhan jiwa kekasihnya.
    
   Setelah merasa tiba masanya kembali ke Tanah Jamu, beliau bergegas kembali ke Labuhan Haji. Setiba di kampung halaman Muda Waly mengungkapkan keinginan mendirikan pondok pesantren di tanah kelahiran. Mendengar keinginan itu semua masyarakat mendukung karena keinginan Syaikh itu adalah kebutuhan bagi mereka juga. Maka bergegaslah semua warga membantu apa saja yang mereka bisa guna mewujudkan cita dan hasrat akan ilmu pengetahuan dan hikmah.
   Santri-santri dan warga semua bekerja secara perlahan dan cepat menimbun rawa-rawa dan mencari papan membangun balee dan penginapan untuk pengajian.
      Belakangan di Aceh beredar ''fatwa'' haram hukumnya suami-istri berhubungan badan pada malam rabu. Kita tahu suara sumbang itu tidak punya sumber dalam Al-Qur'an dan tidak pernah pula Rasul ajarkan. Belakangan saya percaya pernyataan itu cara datangnya begini:
   Kebetulan Abuya Muda Waly mengajar kaum ibu di Darussalam pada malam selasa dan kaum ayah diajarinya malam rabu. Semua santrinya yang mengaji malam berhenti belajar dari Abuya hingga malam larut. Lalu santri-santri itu menginap di penginapan komplek dayah yang telah disediakan, tidak pulang ke rumah lagi karena malam sudah larut. Dulu kendaraan masih dapat dihitung jari, penerangan juga belum seperti sekarang ini. Jadi meski sudah punya laki-bini, semua menginap di komplek Darussalam.
   Kita tahu jatah kaum ayah diajari Abuya malam Rabu. Jadi malam Rabu semua kaum ayah menginap di dayah. Kebiasaan Abuya mengajar kaum ayah di malam Rabu dituruti murid-murid beliau yang kini menyebar ke seluruh pelosok Aceh dengan membuka dayah-dayah dan membuka pengajian untuk kaum ayah pada malam Rabu. Karena itu, di Aceh menjadi tradisi kaum ayah mengaji pada malam Rabu. Karena menginap di dayah, maka tidak sempatlah kaum ayah tidur dengan istrinya. Selanjutnya sesiapa yang sempat menyetubuhi istri di malam Rabu berarti dia tidak pergi mengaji. Ini dianggap ganjil waktu itu, menjadi aib. Sebab itu sesiapa yang sempat tidur dengan istri di malam Rabu menuai aib.
    Saat ini pengajian pengajian sering digelar pada malam Rabu menikuti kebiasaan yang turun-temurun itu. Di surau, balee-balee, masjid dan dayah-dayah sampai sekarang kita dapat menjumpai pengajian untuk orang tua-tua. Pembahasannyapun kitab-kitab tinggi semacam Tuhfah. Jangan dikhawatirkan banyak peserta pengajian yang tidak paham karena kebanyakan masyarakat di Aceh yang tua-tua kini adalah alumni dayah, jadi adalah mudah bagi mereka memahami kitab-kitab tinggi. Sesiapa yang yang tidak punya bekal dasar kitab kuning jangan takut turut serta mengaji karena ulama pensyarah sangat komunikatif sehingga pembahasan yang tinggi-tinggi di dalam kitab dapat dipahami sesiapa saja meski tampak berbelit-belit. Berbelit-belit ini adalah bagian dari upaya pensyarah agar analogi dan tamsilan diberikan dapat dipahami jamaah.      
   Seorang murid Syaikh Muda pernah bertanya karena penasaran ingin mengetahui kenapa Syaikh hanya terlihatnya memegang tasbih saja. Muridnya yang sangat dekat dengannya itu mengaku tidak pernah melihat Syaikh memegang benda apapun selain butiran tasbihnya. Dia hanya menemukan Muda Waly tidak menggenggam tasbihnya ketika beliau sedang shalat, makan, mengajar dan mandi.
  Suatu ketika murinya itu memberanukan diri lalu bertanya kepada beliau akan pengalamannya tersebut. Dengan penuh hikmat, Buya Muda Waly memberi jawaban: ''Kalau memegang pena, timpul keinginan untuk menulis, Bila memegang pedang timbul keinginan untuk menebas. Bila memegang tasbih maka teringat selalu akan berzikir.''
   Mengetahui pesan itu saya jadi teringat akan ulama-ulama besar yang menulis kitab tebal-tebal. Pastinya mereka sering memegang pena sehingga menghasilkal karya panjang panjang. Persoalannya adalah apakah mereka terpaksa meninggalkan tasbih untuk memegang pena atau memaksakan diri memegang pena melepaskan tasbih. Bila perkara pertama yang berlaku maka mereka adalah penerus Nabi mengampaikan hikmah pada ummat di zamannya. Bila perkara kedua yang berlaku maka mereka tidak lebih dari politikus di Senayan yang memaksakan segala macam cara untuk terkenal dan disanjung puji.
       Ulama model pertama adalah mereka yang merasa sangat perlu menulis untuk memberikan penerangan bagi ummat. Mereka benar-benar terdesak dari dalam jiwa untuk mengabadikan pesannya, membagi pengetahuan dan hikmah kepada ummat melalui pena.
    Dari tinjauan akademik, ulama-ulama Aceh memang sangat dalam ilmu agamanya, namun mereka menilai budaya tulis-menulis oleh ulama kita sangat kurang. Setelah Syaikh Abdurrauf hampir-hampir kita tidak menemukan lagi karya-karya ulama dari Aceh. Hanya beberapa karangan saja yang dapat kita temui seperti Syair Prang Sabi karya Tgk. Chik Pantee Kulu.
      Lagi pula banyak ulama dahulu yang tidak menulis sendiri karya-karyanya, melainkan kuliah yang disampaikan dicatat muridnya lalu menjadi kitab-kitab mashur untuk zaman sesudahnya. Setahu saya semua syair dan karya agama Jalaluddin Rumi adalah ditulis oleh murid-muridnya. Kadang beliau mendiktekan puisinya, kadang dicatat muridnya atas inisiatif si murid sendiri. 
      Abuya Muda Waly memang meninggalkan beberapa karya tulis, namun itu tidak seberapa dibandingkan segala macam ilmu agama yang sangat mendalam yang beliau kuasai. Keputusan Buya yang seperti itu memberi kesan pada saya bahwa ibadah yang dilakukan secara ikhlas, konsisten dan banyak adalah lebih baik dimata Allah daripada keranjingan menulis.
     Saya juga menemukan dimasa kini kita terlalu banyak mempelajari ilmu namun sangat sedikit yang kita amalkan. Kebanyakan di antara kita kini dilaknat Allah karena banyak tahu namun minim praktik.
   Masyarakat muslim zaman dulu tidak terlalu mendalam penguasaan ilmunya, namun mereka segera mengamalkan apa yang mereka tahu. Kita sekarang ini terlalu keranjingan menutut ilmu namun sangat malas mengamalkannya. Pengetahuan yang banyak yang dimiliki generasi muslin sekarang ini hanya dijadikan sebagai senjata untuk mendebat para alim ulama. Kita sekarang menjadikan pengetahuan yang kita kuasai untuk menundukkan ahli hikmah.
   Bukan begitu, demi Allah sama-sekali bukan seperti itu. Mereka yang punya pengetahuan sangat banyak tentang agama sementara mereka hanya menggunakan ilmu itu semata untuk bahan perdebatan, diskusi dan memantapkan jawaban pada pertanyaan-pertanyaan dari kampus sama sekali tidak berharga dimata Allah. Mereka dilaknat karena ilmu yang mereka miliki. Dalam pandangan Allah dan Rasul, ilmu itu adalah pengetahuan yang diamalkan secara ikhlas. Mereka sama-sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan seorang yang awam namun selalu mengamalkan yang sedikit yang mereka ketahui.
    Ilmu yang tidak diamalkan pemiliknya diumpamakan Jalaluddin Rumi persis seperti seorang wanita cantik dimiliki seorang pria impoten. Tidak berguna ilmunya kecuali sebagai modal mencari uang dalam memberi kuliah, mengisi seminar, menulis buku dan lainnya. Mereka persis seperti seorang ''mami'' di rumah bordir.
   Abuya pernah berpesan bila berjumpa alim ulama maka ciumlah tangannya, dengarkan hikmak darinya, jangan mendebat. Pesan ini menyiratkan kepada kita untuk tidak menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk medebat alim ulama. Ulama tidak sama dengan akademisi yang sangat banyak pengetahuannya namun mereka seperti yang saya katakan tadi, pemilik rumah bordir. Ulama adalah ahli hikmah. Segenap ilmu yang mereka miliki dinisbatkan pada Allah, mereka jadikan sarana mendekatkan diri padaNya siang dan malam.   
      Kita mengenal Abuya sebagai sosok yang sangat baik ibadahnya. Beliau duduk ditempatnya tahiyatul akhir pada shalat subuh untuk berzikir dan wirid hingga menjelang siang sampai beliau selesai shalat dhuha. Dalam keseharian dan pengajian, Abuya selalu dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan para muridnya dengan singkat, bijak, penuh manfaat. Jawaban yang beliau berikanpun sangat mudah dipahami si penanya.    
    Hasrat akan ilmu Syaikh Muda terlihat saat beliau menunaikan ibadah haji. Berbarengan menunaikan rukun Islam ke lima itu beliau menyempatkan diri untuk sering berdiskusi dengan para alim ulama di Makkah dan Madinah serta menimba ilmu dengan mereka.
   Terbesit keinginan Syaikh Muda untuk berangkat ke Mesir untuk menimba ilmu ke sana, namun teringat anak istri yang tidak bisa ditinggalkan serta para santri dan masyarakat di Aceh yang membutuhkan beliau, Syaikh urungkan niat itu. Karena anak adalah ''diri kita yang terlahir kembali'' maka cita-cita itu diteruskan putra beliau Abuya Mudibuddin Waly yang menamatkan Program Doktornya di tanah kelahiran Nabi Musa as itu.
   Putra-putra Muda Waly menjadi penerus beliau mengemban amanah menjadi pencerah ummat. Mereka menjadi ulama yang disegani dan menjadi penerus pelita cahaya agama.
   Kewibawaan dan kebijaksanaan Syaikh terbukti ketika beliau menziahari makan Nabi Besar Muhammad Saw. Kita tahu bahwa orang Arab Saudi yang mengikuti paham Wahabi sangat anti dengan yang ''berbau makam''. Tidak terkecuali dengan makam Nabi, mereka melarang pengunjung untuk dekat-dekat dengan makam Nabi. Sesiapa yang melanggar polisi penjaga akan melibas mereka. Ketika seorang polisi ingin melibas Abuya, dengan menggunakan bahasa Arab yang fasih, beliau diizinkan untuk berlama-lama duduk dekat makam manusia yang paling beliau cintai. Pada saat itu saya membayangkan betapa tersentuhnya hati Abuya berdekat-dengan kekasih hatinya junjungan beliau siang dan malam, shalawat dikirimkan ke atas Nabi. Kita tahu bahwa sesiapa yang mengirim shalawat atas Nabi akan mendapat syafaat beliau kelak di hari kiamat.
      Hal ini yang membuat kita bingung melihat kaum Muhammadiyah yang menentang diadakan maulid memperingati hari kelahiran Nabi di mana di sana banyak dihaturkan puji-pujian dan shalawat atas Nabi. Ah, tampanya mereka bisa memberi syafaat untuk diri mereka sendiri di hari akhirat kelak. Atau, Ahmad Dahlankah yang diharapkan syafaatnya?
   Abuya Muda Waly terlihat tidak suka dengan paham pembaruan Islam. Ternyata saat ini terbukti pembaruan itu tidak memberi manfaat atas kaum muslim dan dunia Islam. Paham pembaruan itulah yang telah merubah paradigma Islam dari agama pengamalan menjadi agama yang sifatnya pemikiran dan perdebatan belaka. Pembaruan Islam telah membuat kita tidak jauh beda dengan kaum orientalis yang mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang Islam lalu menggunakannya untuk kepentingan akademis semata.
  ''Kaum pembaru'' itu mengira penyebab kemunduraan Islam karena kaum muslim tidak memahami isi kandungan Al-Qur'an. Mereka sering menuduh kaum santri hanya pandai membaca Al-Qur'an sementara mereka sama-sekali tidak mengetahui artinya. Tuduhan ini mereka lontarkan seiring kader-kader Muhammadiyah yang suka membawa buku ''Al-Qur'an dan Terjemahannya'' ke mana-mana dan mereka sering membaca terjemahannya itu. Meski terlihat jarang membaca Al-Qur'an yang diturunkan Allah dalam bahasa Arab itu,  mereka merasa lebih memahami Islam daripada kalangan santri yang gemar membaca kitab kuning yang mereka anggap kolot itu.
   Mereka menuding kitab-kitab kuning adalah kolot, ketinggalan zaman, tidak relevan untuk zaman modern seperti sekarang. Padahal tuduhan itu hanyalah asumsi dan busuk hati. Mereka tidak tahu bahwa kitab kuning itu membicarakan persoalan Fiqih, Tauhid dan Tasawuf yang tidak mungkin ketinggalan untuk zaman manapun. Lagi pula eksplorasi mereka dangkal. Mereka tidak tahu bahwa kitab-kitab itu ditulis oleh ulama suka mengembara dan telah melihat situasi dan kondisi yang beragam. Kitab-kitab itu juga ditulis di tengah-tengah masyarakat yang metepolis seperti Baghdad abad ke-8 hingga ke 13 dan Kutaraja abad 14-17 di mana kedua kawasan itu adalah sentra kerajaan besar, tempat berlalu-lalangnya aktivitas sosial, ekonomi, politik dan sentra ilmu pengetahuan. Saya kira mempelajara dan mendalami kitab-kitab kuning membuat kita jauh lebih memahami Al-Qur'an dan Hadits daripada sekedar membaca terjemahan Al-Qur'an.      Kalangan yang mengaku pembaharu perlu juga tahu bahwa isi-isi di dalam kitab kuning adalah uraian yang sangat komunikatif bagi masyarakat segala level intelektual atas kandungan Al-Qur'an dan Hadits.  Menjelek-jelekkan orang lain memang telalu lancar pena kita dibuatnya, seperti yang sedang saya lakukan saat ini. Hihihi.
  Tapi setidaknya pembaruan itu akan menyeret kaum muslim pada apa yang dikhawatirkan Nabi yaitu tiba masanya zaman fitnah di mana kita jadi ahli sufi pada pagi hari dan bermaksiat pada senjanya. Fenomena ini telah terlihat di kota-kota besar di mana masyarakat banyak mengikuti majelis zikir dan menjadi ''sufi kota'' namun maksiat dikerjakannya juga.
       Fritjof Chapra (The Tao of Physics, 2009:44) mengatakan pengalaman mistik dan fisika subatomik adalah dua paradoks yang tidak bisa dikomunikasikan dengan bahasa verbal karena telah melampaui batas imajinasi manusia. Tasawuf, dengan segala keunikannya adalah bagian daripada fakta yang dikemukakan Chapra itu. Seorang sufi sama-sekali tidak mampu menjelaskan pengalaman mistiknya melalui kata-kata. Kadang-kadang mereka mengungkapkan hubungan antara sufi dengan Allah melalui perlambangan Hubungan antara sepasang insan yang sedang jatuh cinta. Meski demikian, segala perlambangan dan pengistilahan dari hal-hal yang di luar batas imajinasi dan nalar meski dikiaskan dalam bentuk apapun tetap saja tidak mampu menjadi representasi dari kenyataan yang sebenarnya.  
     Abuya Muda Waly adalah orang yang sangat santun perangai, baik budinya, rajin ibadah dan sangat menghormati orang lain. Beliau adalah pengikut tarikat Naqsyabandiyah. Saya melihat, pembahasaan terbaik daripada pengalaman mistik bukanlah dari penjelasan-penjelasan dengan kata-kata, tapi melalui sikap dan prilaku keseharian. 
        Fisikawan yang juga menghadapi persoalan yang sama dengan kaum sufi yakni kesulitan menginformasikan fakta-fakta subatomik yang mereka lihat dan telusuri dapat membahasakan pengalaman luar biasa itu melalui sikap dan kebijakan mereka terkait ilmu pengetahuan dan alam. Sikap, tingkah laku, keputusan dan kebijakan adalah penentu siapa dan seperti apakah kita sebenarnya.
   Pada kesempatan yang lain saya telah mengatakan bahwa segala sesuatu sesuai dengan tingkah laku dan perbuatannya. Tindakan itu menentukan bentuk, bukan bentuk yang menentukan tindakan? Rene Descarter mengatakan pemikiranlah yang menentukan segalanya. Saya kira pernyataan yang lebih tepat adalah tindakan, bukan pikiran semata.   
     Para wali diberi karamah oleh Allah, misalnya bisa berjalan di atas air, bukan karena pikiran beliau yang merubah air agar tidak menenggelamkan melainkan karena kuatnya ibadah mereka dibarengi hati yang ikhlas. Nabi Ibrahim tidak terbakar api bukan semata pikiran beliau yang selalu mengingat Allah tapi juga karena ibadah serta sikap mulia yang beliau miliki.
     Zaman pembaruan pemikiran sekarang ini terlalu mementingkan isi kepala dan apa yang dipikirkan. Manusia sekarang menganggap remeh perkara yang menyangkut perbutan, norma dan tingkah laku. Mereka terlalu mementingkan pengetahuan yang tinggi, ijazah yang banyak. Padahal jauh hari Nabi telah mengatakan adab itu di atas ilmu.
   Penyebab mundurnya Islam bukan karena ummatnya kurang pengetahuan melainkan karena tidak lagi mengamalkan apa yang mereka ketahui. Mengupayakan kebangkitan kembali Islam bukan menjadikan kepala sebagai septic tank bagi segala macam pengetahuan. Meninggalkan segala perintah serta mengamalkan apa yang Allah perintahkan adalah satu-satunya cara agar ummat Islam kembali berjaya.
    Penyebab kegelisahan hati manusia bukan karena kurang pengetahuannya melainkan karena semakin banyak yang ia ketahui semakin banyak dia ingkar. Yang diperlukan manusia adalah pengamalan yang khusyuk serta konsistensi mengamalkan apa yang telah mereka ketahui dibarengi keikhlasan menjalankannya. Wallahua'lam.
»»  READMORE...

Sabtu, 13 Agustus 2011

Filsafat Aceh: Daud Beureu'eh

Kenapa Ulil Absar Abdallah dituduh sesat oleh mayoritas muslim? Mungkin karena bukunya yang punya judul aneh, "Membakar Rumah Tuhan". Judul ini langsung mengarahkan pikiran dua ratus juta kaum muslim Indonesia pada sebuah gambar mesjid sedang terbakar. Orang Kristen juga sedang membayangkan sebuah gereja yang sedang terbakar. Keberagamaan seseorang patut dipertanyakan bila tidak merasa sedih bila rumah ibadahnya terbakar. Mereka semua pasti merasa marah pada yang membakar.

Dalam kasus di atas, dalam bayangan umat beragama, Ulillah yang ada dalam bayangan mereka yang menjadi pelaku pembakaran rumah tuhan.

Taufik Ismail mengatakan rokok adalah tuhan. Orang-orang semua suka membakar rokok dan menikmati asapnya. Lembaga pemesanan fatwa, MUI dipesankan fatwa untuk mengharamkan rokok oleh orang orang yang merasa prihatin atas bahaya rokok. Karena merasa rugi, perusahaan rokok membeli kembali fatwa itu.

Rokok diharamkan alasannya merusak kesehatan. Padahal mie instan dan makanan serta minuman berbahan pengawet lebih berbahaya lagi. Sebuah fatwa tidak jauh beda seperti pemain sepak bola. Boleh dimiliki dan diultimatum oleh sesiapa yang mau membayar tinggi. Halal-haram tergantung pada uang. Saya kira begitu prinsip MUI.

Bahkan taik saja bisa dimakan. Taik luwak awalnya diharamkan, karena pemerintah pariwisata punya keuntungan besar atas komoditas kopi luwak, maka taik luwakpun dihalalkan kembali, bila berani melawan pemerintah, MUI bisa kehilangan jatah. Bagi MUI, asal ada uang, taikpun akan difawakan halal. MUI, demi uang, taikpun dimakan.

Kembali pada Ulil, kemungkinan, di tengah-tengah orang-orang yang gemar membakar rokok, Ulil  membakar bungkus rokok, maka dianggap sesatlah dia.

Demikian yang terpikir oleh saya saat baru saja keluar dari sebuah ruangan di gedung Freedom Institute Jalan Proklamasi, Jakarta. Kami baru saja mengikuti diskusi, atau lebih tepanya bedah buku berjudul "Ideologi Islam dan Utopia". Buku yang merupakan hasil dari sebuah disertasi dari sebuah lembaga pendidikan tinggi Australia yang ditulis oleh Luthfie Asysyaukanie membicarakan tentang tiga model negara Islam yang lahir dari hasil pemikiran para intelektual Indonesia yaitu Negara Islam Liberal, Negara Islam Demokratis dan Negara Islam Relijius. 

Pembicara pertama, Kuskridho Ambardi dari Lembaga Survey Indonesia (LSI) mengatakan, Masyumi yang menjadi representasi kaum muslim dalam pentas politik Indonesia Tahun 1950 dan 60-an sangat medukung sistem demokrasi, kesetaraan jender dan menolak bank berlabel Islam. Apa-apa yang menjadi pola pikir dan visi Masyumi mengenai sistem demokrasi di tengah-tengah sistem politik monarki yang diusung Sukarno ketika itu bukanlah demokrasi yang kita rasakan hari ini.

Demokrasi yang sedang kita rasakan hari ini adalah demokrasi kanibal dan brutal yang bebas tanpa arah. Demokrasi yang diimpikan Masyumi adalah demokrasi yang berbarengan dengan pencerdasan rakyat utamanya pemahaman Islam yang benar dan mendalam serta komitmen pelaksanaan perintah Allah. Dengan itu ketika rakyat diberikan kebebasan menentukan jalan hidupnya, mereka akan mengambil pilihan yang cerdas dan membangun.

Demokrasi hari ini adalah demokrasi yang terus menerus mengkondisikan segala sesuatu agar rakyat terus-menerus berada dalam kebodohan. Dengan itu kaum elit dapat memanfaatkan kebodohan rakyat untuk terus melanggengkan kekuasaan dan memupuk kekayaan pribadi dan golongan terus menerus.

Demokrasi yang kita mimpikan adalah demokrasi yang tulus yang berasal dari keinginan, will para elit untuk mencerdaskan dan mensejahterakan rakyatnya secara keseluruhan tanpa tebang-pilih dan tidak takut bila ada dari jelata yang bangkit menjadi lebih cerdas darinya dan menggantikannya. Kerelaan menerima kelebihan orang lain dengan siap melepaskan jabatan untuk digantikan orang lain yang lebih baik daring adalah bagian dari demokrasi yang baik. Hasrat politik yang beginilah yang kita harapkan, yang dicita-citakan Masyumi kala itu.

Kemudian mengenai kesetaraan jender yang diperjuangkan Masyumi adalah berseberangan samasekali dengan kesetaraan jender yang dimaksudkan Barat hari ini. Kasetaraan jender yang diperjuangkan Masyumi adalah kesadaran sosial agar memperlakukan perempuan bukan sebagai prioritas kedua terutama di bidang pendidikan.

Kesetaraan yang diusung Barat hendak menyamakan potensi dan fitrah laki-laki dengan perempuan. Bahkan kesetaraan yang diusung barat malah ingin menjadikan perempuan sebagai bagian dari produk komersil. Alih-alih memperjuangkan hak-hak perempuan, mereka malah telah menjadikan perempuan sebagai bagian dari benda. Mereka melempar perempuan ribuan tahun ke belakang jauh lebih mengenaskan dari nasib perempuan pada masa Arab jahiliyah.

Ketika mengilustrasikan contoh negara demokrasi yang dicita-citakannya, Masyumi memberi contoh negara-negara Barat yang telah maju kala itu, bukan megara-negara muslim Timur-tengah. Hal ini dapat dimaklumi karena dua alasan. Pertama memang saat itu tidak ada representasi negara Islam yang sesuai untuk zaman moder. Kedua karena sistem sosial politik beberapa negara Barat semacam Inggris memang sedikit banyak merepresentasikan gambaran sistem politik yang berbau Islam sesuai apa yang ada dalam imajinasi kader Masyumi.

Lihat saja Inggris yang menerapkan sistem politik yang hampir sama persis dengan Islam. Ketika kerajaan-negara di dunia bekas jajahan Inggris mau mengakui tunduk pada kerajaan, maka negara-kerajaan tersebut diwajibkan membayar pajak kepada kerajaan Inggis; kewajiban Inggris adalah melindungi negara-kerajan bawahannya. bahkan warga negara-kerajaan di bawah Inggris dianggap sama posisinya dengan warga negara Inggis. Maka wajarlah gelar-gelar bangsawan banyak diberikan pada kerajaan-negara dibawah persemakmuran Inggis. Di sini saya layak mempertanyakan kenapa Sir Azyumardi Azra diberikan gelar kebangsawanan Inggris, bukankah Indonesia tidak berada di bawah Persemakmuran? Kenapa, hayoo??


Dr. Hasan Muhammad Tiro dalam memperjuangkan independensi Aceh juga tidak suka mengambil contoh negara-negara muslim yang ada sesuai dengan mimpi dan cita-citanya akan sebuah negara Islam yang layak di zaman modern. Dia lebih suka melihat beberapa negara Barat yang berhasil mensejahterakan rakyatnya.

Tiro adalah tokoh yang memperjuangkan tercapainya cita-cita perjuangan Teungku Muhammad Daud Beureu'eh dengan memproklamirkan kemerdekaan Aceh sebagai sebuah negara yang terpisah dari NKRI. Setelah 32 tahun berjuang, akhirnya apa yang dicita-citakan Abu Dau tercapai juga. Sebelumnya, tuntutan Abu Daud hanya dicantumkan sebagai keistimewaan Aceh sebagai daerah yang diistimewakan dalah hal agama, adat dan pendidikan dalam keputusan pemerintah RI No. 1/Missi/1959 namun sama-sekali tidak terlihat pelaksanaannya secara konkrit.

Di bidang pendidikan, kurikulum pendidikan formal di Aceh sama sekali tidak diistimeakan untuk Aceh. Semua sistem dan kurikulumnya disamakan untuk seluruh pelosok negeri. Mana keistimewaannya? Bahkan siswi saja tidak dibolehkan menutup aurat dengan memakai pakaian panjang dan memakai jilbab. Selain melanggar hak keistimewaan pendidikan, hak keistimewaan adat dan agama dilanggar sekaligus oleh pemerintah pusat pada kasus pelarangan pakaian menutup aurat bagi pelajar puteri.

Tiro melihat fenomena ini sebagai kebohongan besar. Dia memutuskan untuk memberontak dengan memaksakan Aceh terpisah dari RI. Rupanya Tiro pandai melihat watak pemerintah pusat. Saya kira Tiro memandan pemerintah seperti penjual sayur. Bila harga yang ditawarkan tidak lebih rendah dari yang diinginkan, maka keinginan itu takkan dipenuhi. Maka dia menawarkan kemerdekaan untuk Aceh. Ternyata strategi ini berhasil. Status keistimewaan Aceh akhirnya terimplementasikan secara formal melalui UU Tahun 2001 tetentang status otononi Aceh. Selanjutnya Tiro "membeli sayur itu seharga" MoU Helsinki tahun 2005.

Sejak mudanya, Tiro sudah sangat jeli mengkritisi sikap-sikap politik Sukarno. Dia mengkritik Sukarno yang memaksakan konsep negara kesatuan bagi Indonesia. Menurutnya konsep tersebut sangat tidak mungkin mengingat kemajemukan karakter dan latar belakang filosofis masing-masing suku dan adat Istiadat di Indonesia. Dia menawarkan konsep negara federasi untuk Indonesia. Menurutnya sistem tersebutlah yang paling tepat untuk mengatur negara seluas dan seplural Indonesia. Semua kritik serta gagasannya itu ia tuangkan dalam buku "Demokrasi untuk Indonesia".

Rupanya dia berhasil mewujudkan mimpi "negara federasi"nya dengan lahirnya status otonomi bagi Aceh. Diperkirakan, dikemudian hari, semua provinsi di Indonesia akan menganut sistem otonomi. Sistem otonomi tidak jau beda dengan federasi. 

Kita tahu bahwa Abu Daud mendirikan DI-TII bukan bermaksud menjadikan Aceh-Sumatera sebagai negara terpisah dari RI. Dia hanya menginginkan pemerintah melegalkan status keistimewaan bagi Aceh-Sumatera. Saya juga yakin Tiro juga berpikiran sama. Dia juga tahu bahwa Aceh tidak mungkin dapat dipisahkan dari RI. Buktinya saja dia membeli sahan Exxon Mobil sebagai modal hidupnya di Negeri Rantau tempatnya mengorganisir Gerakan Aceh Merdeka.

Dalam status "Syariat Islam [SI] di Aceh" tereksploitasi banyak efek dari perjuangan sistem itu. Misalnya kekerasan dan penembakan-penembakan misterius. kalangan Barat yang takut dengan Islam mencari-cari titik lemah penerapan SI. Mereka mengklaim hukum cambuk yang berlaku bertentangan dengan HAM. Padahal hukum cambuk itu sakitnya terasapun tidak.

Mereka yang tidak senang pada Islam sama-sekali ingin menutupi efek-efek positif dari pelaksanaan SI. Padahal Pendidikan dan Kesehatan dapat dirasakan gratis di Aceh. Kita tidak perlu lagi melihat aurat wanita di sekolah dan kantor-kantor. Banyak efek positif lain yang tidak bisa disebutkan di sini.

Apakah negara adalah bagian dari budaya, atau agama? Melalui Filsafat Ilmu kita melihat negara adalah aplikasi dari ilmu. Ilmu sendiri adalah bagian dari budaya. (Dengan catatan, ilmu yang tidak mengurus urusan tata sosial manusia karena bagi saya itu urusannya agama.) Negara juga bagian dari kebudayaan. Nurchalish "Cak Nur" Madjid sudah berhasil memberi pencerahan bagi kita untuk cermat membedakan mana budaya mana agama. Ketika negara merumuskan sistem untuk mengatur hal-hal esensial dan prinsipin manusia, maka mutlak agama telah mengangkangi wewenang agama. Padahal dalam konstitusi negara semacam Indonesia, urusan agama diatur oleh individu dan masyarakat itu sendiri. Maka tidak keliru mengatakan konstitusi Indonesia melanggar aturan yang dibuatnya sendiri.

Dalam negara yang menerapkan sistem pemisahan agama dengan negara, selalu negara mengalami konflik secara terus-menerus dengan rakyatnya. Sebab negara adalah sebuah organisasi legal yang berhak mengatur dan menggiring rakyat.

Saya melihat negara sekuler adalah negara yang munafik sebab dia tahu bahwa nilai yang dihayati dari nurani rakyatnya adalah agama, bukan nasionalisme. Implementasi nilai yang dihayati dan jadi prinsip jiwa itu melahirkan etos kerja yang luar biasa. Bila masyarakat menemukan prinsip negara tidak sama meski tidak berseberangan dengan nuraninya, maka kualitas rakyat itu adalah hasil penghayatan jiwanya sekalipun negara mengklaim karena asas itulah nilai positif itu muncul.

Bila nilai yang dihayati rakyat bertolak belakang dengan sistem negara, maka perlawanan akan negara tidak dapat dielakkan. Inilah yang dirasakan Abu Daud, Kartosuwiryo dalam seluruh kaum muslim Indonesia yang betul-betul paham dengan agama Islam.

Indonesia adalah negara yang paling tidak demokratis dibawah kolong langit. Asas negara Indonesia adalah Pancasila. Pancasila itu seratus persen dari ajaran Hindu.

Awal Indonesia merdeka konon jumlah kaum muslim adalah 95 persen. Agama terbesar kedua adalah Kristen. Maka Pancasila yang ditetapkan sebagai asas negara berasal dari sistem ajaran masyarakat yang sangat minor. Inikah demokrasi?

Tidak salah ketika Persatuan Ulama Seluruh Indonesia (PUSA) pada 1953 menetapkan bahwa Sukarno adalah presiden yang memajukan agama Hindu saja. Sementara itu dia menzalimi keinginan ratusan juta kaum muslim lainnya. Daripada ajaran Hindu itu, agak lebih baik asas Kristen saja yang dijadikan asas negara. Ini akan terlihat sedikit bergerak ke arah yang disebut: demokrasi.

Pembodohan pada rakyat memang akan terus dipelihara oleh pemerintah agar dia tidak berfikir ulang untuk mempertanyakan apakah Indonesia adalah negara yang demokratis.

Indonesia pernah diklaim sebagai negara paling demokratis. Alasannya rakyat boleh memilih sendiri penguasanya dengan menusuk fotonya mulai dari kepala desa mingga presiden (minus camat). Tapi kalau asas negaranya tidak merepresentasikan demokrasi, maka segala turunan dari asas itu adalah bulsit, omong kosong.

Kalau dulu kita takut komunis menggantikan asas dengan Komunisme yang menyingkirkan Tuhan. Kalau sekarang kita takut apa? Kata Nabi, kita tidak boleh taklid pada apun kecuali Al-Qur'an dan Hadits.

Kata salah seorang pada bedah buku itu, pemimpin kafir yang mampu mensejahterakan rakyatnya lebih baik daripada pemimpin muslim yang korup. Orang Indonesia memang lebih suka memilih keburukan yang potensi mudharatnya lebih sedikit, samasekali malas dan takut  mencari hal-hal yang di luar batas alternatif yang disediakan. Misalnya, kenapa tidak menolak keduanya karena keduanya buruk dan bersama berjuang berusaha melahirkan pemimpin yang fakih yang mampu mensejahterakan rakyat. Meski begitu, selama asas kita bertentangan dengan nurani kita, sekalipun malaikat yang kita jadikan pemimpin, kesejahteraan takkan tercipta.

Dibutuhkan nurani dalam berbangsa dan bernegara. Dan itu tidak bisa dipaksakan dan tidak bisa pula disiasati. Nurani hanya bisa muncul apabila realita yang ada adalah bagian dari nuraninya, bukan "benda asing" dari luar nurani yang siap memaksakan kehendak.

Ditolaknya Islam sebagai asas negara selalu mengambil alasan karena hak-hak minoritas perlu dijaga. Padahal agama sebelum Islam dalam kitab sucinya yang asli yang belum diakal-akali memerintahkan pelaksanaan hukum sesuai dengan isi perintah Al-Qur'an juga. Jadi mendirikan SI sama-sekali sejalan dengan ajaran agama manapun kecuali agama bikinan otak manusia. Di samping itu, karena alasan menghargai hak minoritas yang ternyata juga alasan keliru, negara kita telah menyiksa nurani mayoritas warganya. Ini akan selalu berlaku seumur negara ini bila asasnya masih Hindu.

Ulil mengatakan negara bukanlah tujuan bagi agama. Alasannya adalah ketika Nabi ditawarkan salah satu dari pilihan kerajaan dunia atau akhirat, Nabi memilih yang kedua.

Negara memang bukan tujuan. Namun sering negara menjadi penghalang tujuan dalam sistem sekuler. Bila sebuah negara menjadi pemudah jalan agama, maka negara menjadi kendaraan untuk mencapai tujuan. Dan negara yang dapat dijadikan kendaraan itu adalah negara yang berasaskan Al-Qur'an dan Hadits. Sementara negara sekular yang mejadi penghalang tujuan wajib disingkirkan. 

Pada pembuka pembicaraannya, Ulil sempat menjelaskan pengertian 'ideologi' dan 'utopia'. Katanya, ideologi adalah paham atau aliran mapan yang dianut dalam sutu masyarakat. Sementara 'utopia', terangnya, adalah suatu konsep yang dianggap ideal yang ingin diterapkan dalam suatu masyarakat. Utopia berkeinginan merubah tata sosial yang ada.

Menurt Ulil, yang dibawa Masyumi dan PKI adalah utopia. Berarti menurutnya yang dibawa PNI adalah sesuatu yang telah mengakar pada masyarakatnya--setidaknya dalam artian realitas konkrit. Ulil mengatakan hampir semua utopia itu gagal, misalnya keruntuhan Masyumi dan PKI, namun saya kira bila kita tidak memperjuangkan suatu utopia, berarti kita belum melakukan apa-apa.

Ambardi melaporkan 70% masyarakat Islam mendukung didirikannya SI. Masalahnya, katanya, ketika ditanyai alasannya, masyarakat beralasan demikian karena gerah melihat kriminalitas dan carut-marutnya bangsa ini. Menurut Ambardi Alasan itu sangat sekular atau reaktif. Namun saya melihat alasan tersebut sudah sangat benar setidaknya karena dua alasa. Pertama karena agama memang harus menjadi jawaban atas keluhan masalah yang dihadapi masyarakat sehari-hari. Agama harus mampu memberi alternatif konkrit atas persoalan konkrit manusia. Agama jangan dilihat sebagai konsep langit yang melangit yang hanya melihat akhirat dan menutup mata atas permasalahan dunia. Kedua masyarakat awam hanya mampu memahami dan menerima seustu yang memberi efek positif yang konkrit bagi mereka, dapat dirasakan dan dinikmati hasilnya seketika. Mengenai alasan-alasan yang filosofos dan substantif, tanyakan pada ulama-cendikiawannya. 

Ulil mengemukakan dinamila pemikiran Islam terus berubah darimasa ke masa. Periode pertama ada Natsir. Selanjutnya lahir pemikiran Cak Nur. Ke depan akan lahir pemikiran-pemikiran lainnya. Di samping itu banya pemikiran yang luput dari pantauan kita. Misalkan pemikiran Abu Daud yang sangat brillian dengan menawarkan pengesahan sistem Islam dibawah asa Pancasila. Meski mustahil, setidaknya Tiro berhasil mewujudkan mimpi itu. Dan kemungkinan pula PKS akan berhasil mewujudkan mimpi Masyumi.

Berbarengan masa dengan Abu Daud, Di kawasan Aceh Selatan, seorang ulama bernama Syeikh Muhammad Muda Wali berusaha menciptakan tatanan masyarakat Islami tanpa menyentuh persoalan politik. Meski sangat berguna, di zaman moder bahkan usaha ini akan sia-sia. Sebab sesiapa yang berada di bawah wilayah politik satu negara tidak bisa melepaskan diri darinya. Sesiapa yang hidup di bawah kolong langit yang sama akan mustahil menolak globalisasi. Karena itu, yang punya kekuatan menolak segala kemudharatan bagi agama hanya sistem dan asas yang berlandas agama. Bila tidak, hanya Yusuf as saja yang mampu bertahan, itupun karena saat itu dia mendengan suara dari Tuhannya.

Pada penutup pembicaraannya, Ulil mengatakan Islam yang ditawarkan Masyumi di masa lalu berbeda dengan Islam yang ditawarkan Hisbu Tahrir (HT).

Memang benar pendapat Ulil itu, sistem negara Islam yang diinginkan Masyumi adalah sistem modern yang bukan berbentuk dinasti dimana kekuasaan adalah milik keluarga. Sementara HT masih mengharapkan sistem kolot itu. padahal gajala menunjukkan bahwa sistem dinasti semakin ditinggalakan dan tidak lama lagi akan musnah dengan sendirinya semuanya.

Sistem nagarapun akan dihapuskan pada masa depan. kedepan yang namanya negara akan tidak ada lagi. Nantinya negara akandigantikan korporasi. Bila hari ini korporasi mengendalikan negara secara absolut, maka ke depan dia akan memusnahkannya.

Sistem dan cara kerja korporasi sama dengan dinasti kerajaan. Bila orang tuanya mati, pastilah diwariskan untuk anaknya. Kemudian korporasi besar akan menelan korporasi kecil. Bila yang ditunggu HT adalah Imam Mahdi maka jangan terlalu berharap Imam Mahdi itu adalah orang yang memakai gamis lalu bermahkato raja bewarna kuning di kepalanya yang akan duduk di sebuah singgasana yang terbuat dari kayu berukiran sementara disampingnya kiri-kanan ada dua gadis putri kecil sedang mengipasnya dengan kipas lebar dibalut kain kuning. Jangan berharap pula di hadapannya duduk lesehan para petinggi istana membentuk letter U.

Tapi Imam Mahdi bisa jadi adalah seorang pemilik korporasi terbesar dunia. Dia berdasi mengkilap dengan jas mewah turun dari mobil termewah dan termahal. Seharusnya HT tidak terlalu mengharapkan khilafah yang akan muncul semacam Mataram atau Ummayyah. Boleh jadi khilafah itu adalah korporasi. Wallahu'alam.


Mentra 58, 13 Agt. 2011
»»  READMORE...

Senin, 08 Agustus 2011

Hamzah Fansury

International Society for Islamic Phylosophy (ISIP) bersama The Islamic College Jakarta mengadakan Seminar Tasawuf Filosofis bertema "Melacak jejak Tasawuf Filosofis di Indonesia" pada Sabtu, (06/08/'11) di Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia, Depok.

Seminar yang diberi kata sambutan oleh Prof. Dr. Sayyed Ahmad Fazeli, Rektor The Islamic College Jakarta tersebut dibagi kepada tiga sesi menghadirkan para pembicara yang ahli pada bidangnya masing masing.

Seminar ini diberi pengantar oleh Dr. Alwi Shihab. Dalam pengantanya itu Alwi mengatakan baginya diminta memberi kata pengantar bagi diskusi bertema tasawuf seperti berjualan air di tengah para penimba air. Maksudnya pengetahuannya tentang tasawuf tidak lebih baik daripada para pakar tasawuf di tempat itu. Kita tahu bahwa The Islamic College adalah lembaga pendidikan tinggi yang berfokus pada pengkajian dan pembelajaran Filsafat dan Tasawuf.

Alwi dalam bukunya  "Akar Tasawuf di Indonesia" memberikan kasifikasi yang kurang tepat terhadap tasawuf . Lihat saja dia mengatakan tasawuf yang diamalkan Nuruddin Ar-Raniry adalah Tasawuf 'Sunni' sementara tasawuf yang diamalkan Hamzah Fansury adalah 'Tasawuf Falsafi'. " Tasawuf Sunni" disebut juga  'Tasawuf Akhlaqi'.  Tariqah Alawiyah diikuti hampir semua para pengukut "Tasawuf Akhliqi". Tariqah Alawiyah  tidak lepas dari pengaruh pemikiran Ibnu Arabi. Klasifikasi-klasifikasi itu dibuat untuk kemudahan penelitian akademisi dan oleh Syi'i dijadikan kepentingan penyebaran aliran.

Salah seorang peserta seminar bertanya pada Dr. Haidar Bagir kenapa "Tasawuf Akhlaqi" lebih populer di Nusantara daripada "Tasawuf Falsafi". Bagir menjawab karena masyarakat awam  berfikirnya literatis dan praktis. Jadi karena Tasawuf  Akhlaqi lebih mudah mereka pahami, itu yang mereka terima. Pada pernyataan Bagir ini kita memperoleh penegasan bahwa Tawawuf Falsafi cuma beda level dengan Tasawuf Akhlaqi. Yang pertama membahas "apa yang sebenarnya" dan yang kedua membicarakan "apa yang sebenarnya".  Jadi, apa yang terlihat tidak wajar ditengah masyarakat belum tentu sesat.

Kita tahu bahwa ajaran Fansury bertentangan dengan Raniry. Kita juga tahu bahwa Sunni konfrontasinya dengan syi'i. Jadi penggolongan ajaran Raniry sebagai Tasawuf Sunni adalah sebagai penggiringan stigma secara perlahan agar nantinya diharapkan tasawuf falsafi itu adalah miliknya Syi'ah.  Mungkin inilah tujuan diselenggarakannya seminar yang juga turut merangkul Universitas Paramadina, Departemen Filsafat Universitas Indonesia dan Penerbit Mizan.

 Prof. Dr. Sir Azyumardi Azra yang mendapat jatah berbicara pada sesi pertama seminar mengingatkan bahwa Ibnu Arabi itu jelas-jelas Sunni. Pemikiran Fansury paling besar dipengaruhi pemikiran Arabi. Dan Kita juga tidak akan berdebat bahwa Fansury adalah Sunni. Penyebutan 'Tasawuf Falsafi' pada ajaran Fansury adalah karena ajarannya yang memberi kesan Wahdatul Wujud. Lebih Aneh lagi, RA. Nicholson mengatakan bila tidak mengikuti konsep Wahdatul Wujud seorang tidak patut disebut sufi (Alwi Shihab, Akar Tasawuf di Indonesia, Depok: IIMaN, 2009 h.58)

Sementara yang lebih mengherankan adalah ajaran Raniry yang menentang Wahdatul Wujud dikatakan ajaran Tasawuf Sunni. Datang kata 'tasawuf' untuk ajaran Ar-Raniry saja "tidak beralasan". Raniry, Fansury, Syamsuddin dan semua ulama Melayu adalah Sunni. Pengistilahan dan klasifikasi tak beralasan terlihat sama seperti strategi Israel dalam mencaplok wilayah Palestina. Lembaga penyelenggara seminar ingin agar "tasauwuf Falsafi" dianggap ajaran Syi'ah. Mereka ingin memberik kesan bahwa mazhab tasawuf pertama yang berkembang di Indonesia adalah Syi''ah punya. Bila strategi ini berhasil, mereka akan dengan bangga mengatakan bahwa ajaran Islam mula-mula di Nusantara adalah ajaran Syiah; jadi ikut Syi'ah bagi masyarakat Nusantara adalah "kembali".

Prof. Dr. Kautsar Azhar Noer sendiri melihat aspek tasawuuf terbagi menjadi aspek teoritis dan aspek praktis. Meski demikian, saya melihat kedua aspek tersebut tidak dapat dipisahkan begitu saja sebab kedua aspek tersebut dijalankan secara beriringan oleh sufi zaman dahulu. Sufi yang mempunyai kemampuan menulis akan menuliskan gagasannya, sementara yang tidak mampu tidak menulis. Jadi yang menulis itulah yang disebut teoritis. Karena itu yang teoritis pastinya praktis juga. Kalau sekarang sufi sendiri hampir tidak menulis, yang menulis tentang sufi adalah akademisi atau pengamat sufi yang tidak menjadi sufi.

Alwi mungatakan, sebagaimana yang disebutkan Jalaluddin Rumi dan Annemarie Schimmel, pendefenisian terhadap'tasawuf' adalah mustahil. Atau kalau tasaswuf didefinisikan, maka bukanlah tasawuf yang abadi, bukan yang sebenarnya. Pendefenisian terhadap Tao juga begitu. Kata Lao Tzu, Tao yang disefenisikan bukanlah Tao yang abadi (Fritjof Chapra, The Tao of Physics, Yogyakarta: Jalasutra, 2009: 20). Uniknya, Tao dan Tariqah dalam Tasawuf punya arti yang sama: jalan. Tasawuf memang tidak bisa dipisahkan dengan Hindu, apalagi aliran Wujudiyah.

Orang-orang aliran Wujudiyah sering mengungkapkan kata-kata yang sama dengan Fir'aun, yaitu mengaku diri sebagai tuhan. Sufi aliran itu mengakui orang-orang menentang mereka karena ketidak tahuan. "Kalau saja pembunuhku mengetahui, niscaya mereka tidak akan melakukannya" kata Hallaj. Biyazid Al-Bistami bahkan berani mengucap "maha suci aku" sebuah ungkapan yang hanya patut diperuntukkan pada Allah Swt. saja.

Seorang Orientalis bernama Louis Massignon mencoba memahami maksud dari ucapan para sufi. Dia mengatakan bahwa bahasa sufi adalah bahasa simbolik, jadi tidak perlu dimaknai secara verbal.

Pendapat Massingnon dapat diterima orang-orang yang punya intelengia tinggi, namun tidak oleh awam. Awam menafsirkan sesuatu apa adanya. Mereka polos. Sementara kebanyakan intelektual punya kepentingan ternyadap pernyataan-pernyataan di luar ortodoksi.

Menurut Alwi lagi, Tasawuf Filosofis adalah upaya mengemukakan intuisi melalui rasio. Namun sayang, semakin intuisi ini dirasionalisasikan, semakin dianya membingingkan.
Al-Jili melalui kitabnya "Insan Kamil" berniat menyederhanakan pemikiran Ibnu Arabi. Namun yang terjadi adalah semakin rumit dan berbelit-belitnya ajaran itu. Sebab bahasa memiliki keterbatasan dalam mengungkapkan hal-hal diluar batas rasionalitas. Meski bahasa, adalah sarana terbaik dalam mengkomunikasikan gagasan.

Alwi melihat Raniri hanya mengkritik Fansury, namun sama-sekali tak menyinggung Ibnu Arabi yang menjadi sumber gagasan teori Fansury. Saya kira ini wajar, sebab Raniry tidak punya kepentingan mengkritisi pemikiran Arabi. Kepentingan Raniry adalah mengusir para pengikut pahan Fansury karena punya keinginan menjadi Mufti kerajaan Darussalam. Lagi pula Arabi bukan satu-satunya sumber gagasan Fansury. Pun masyarakat tidak tahu-menahu gagasan Arabi secara utuh.

Belakangan orang-orang mulai tahu bahwa kepentingan Raniry adalah politis. Namun masih sedikit orang yang tahu bahwa akhirnya Raniry kalah debat dengan salah seorang pengikut Fansury dari Minang Kabau bernama Syaiful Rizal. Karena kalah, Raniry harus kembali ke negeri asalnya Ranir untuk menimba ilmu lagi. Jadi gagaran Raniry tidaklah bertahan lama di tanah Melayu.

Direktur Mizan, Dr. Haidar Bagir pada kesempatan itu menguraikan bagaimana gagasan Arabi masuk ke Nusantara. Dia menjelaskan Arabi punya murud yang juga anak tirinya bernama Khunawi. Khunawi adalah anaknya guru Arabi bernama Ishak yang meninggal dunia lalu istrinya dikawininya.

Kata Bagir, Khunawi suka berkirim surat dengan Nasruddin Thusi. Dari surat menyurat antara kedua intelektual inilah bertemunya antara pemikiran Filsafat Peripatetik dengan Tasawuf Filosofis.  Tasawuf Fisosofis sendiri adalah gagasan filosofis yang dikenbangkan dari pengalaman mistik yang digagas oleh Syihabuddin Suhrawardi Al-Maqtul. Ide Suhrawardi ini tidak lepas dari pengaruh Imam Ghazali yang merumuskan kajian Fiqih melalui bahasa filosofis. 

Sir Azra mengatakan kontribusi terbesar Al-Ghazali adalah mengawinkan esoterisme dengan eksoterisme Ialam. Kalau bukan karena Al-Ghazali yang berhasil menarik kembali pemikiran Tasawuf Filosofis maka model pemikiran tasawuf Ibnu Arabi, Biyazid Al-Bistami dan Mansur Al-Hallaj akan menjadi agama tersendiri terpisah dari Islam. Argumen Azra ini saya kira bukannya tidak beralasan. Meskipun para sufi itu menjalani tasawuf di dalam syariah, namun warna dan cita ajaran mereka secara verbal terlepas jauh dari ajaran-ajaran pokok yang dikemukakan dalam Al-Qur;an dan Hadits. Kalau saja agama Hindu memiliki seorang Al-Ghazali, saya yakin agama Budha, Kunfusianisme dan Konghucu tak akan ada.

Bagir mengatakan ajaran Tasawuf dalam Islam murni dari sumber teks Islam, Al-Qur'an dan Hadits. Padahal Penggagas Filsafat Illuminasi, Suhrawardi mengaki salah satu sumber inspirasinya adalah ajaran Zoroaster.

Ronggowarsito adalah sufi kejawen. Namun keyakinan ini tidak sepenuhnya benar karena alasan dia banyak menimba ilmu dari Hindu Bali. Gagasan Ronggowarsito yang diakui identik dengan ajaran Hindu justru adalah bukti sulitnya dibedakan aliran sufi tertentu dengan ajaran Hindu. Kita harus tahu bahwa ajaran Hindu asli sangat monoteistik. Jadi kita harus berlapang dada menerima bahwa sila pertama Pancasila itu asli ajaran Hindu, bukan Islam!

Selain Khunawi, Jili juga sebenarnya mengikuti paham pemikiran Arabi meski konsep 'Wahdatul Wujud' Arabi dia ganti dengan Istilah 'Tauhid Wujudi'. Karena penggantian istilah ini, meski secara keseluruhan pemikiran Jili tidak terlepas dari pemikiran Arabi, namun dia berhasil lolos dari stigma sebagai sosok kontrofersial.

Pada Abad ke-16, Asy-Sya'rani dari Jazirah Arab menjadi transformator pemikiran Arabi ke berbagai pelosok Dunia Islam termasuk Nusantara. Saya yakin pemikiran Arabi telah lama menjadi bagian dari inspirasi pemikiran intelektual Nusantara. Namun barulah pemikiran Arabi populer di Nusantara oleh Fansury. Ada pendapat yang menyatakan Sya'rani adalah salah satu guru Fansury ketika dia menimba ilmu di Tanah Arab.

Satu lagi Intelektual  yang ikut mempengaruhi gaya pemikiran Ibnu Arabi ke Nusantara yaitu Burhanpuri Al-Hindi melalui kitabnya yang hingga kini masih populer di kalangan masyarakat santri tingkat atas yakni "Tuhfah Al-Mursalah Ila Ruh Al-Nabi". Kitab yang ditulis pada tahun 1590 ini  membahas tentang martabat wujud. Kitab ini awalnya sulit dipahami sehingga para ulama Nusantara meminta pada kerajaan Utsmani untuk memberi solusi terhadap persoalan ini. Menanggapi itu, kerajaan Utsmani meminta Ibrahim Al-Qurani menulis sebuah kitab penjelasan tentang Tuhfah. Kita itu diberi judul Izhab Addhaqi. Ditulis tahun 1596.

Belakangan juga timbum konflok yang hampir sama dengan kasus Fansury-Raniry di Aceh. Amran Waly menyusun sebuah buku tasawuf yang mengikuti jejak pemikiran pantheisme. Buku ini ditentang Abu Ibrahim Bardan. Menurut Abu Bardan yang populer dengan sebutan "Abu Pantèn" buku tersebut dapat menyesatkan awam. Beruntung ada Abuya Prof. Dr. Muhibuddin Waly yang berhasil meredan konflik tersebut. Peran Muhibuddin dalam mendamaikan konflik ini sama dengan peran Syeikh Abdurrauf "Syiah Kuala" As-Singkili meredan konflik Hamzah-Raniry.

Di Masa depan Tasawuf Falsafi akan terus dibutuhkan masyarakat modern karena mereka yang larut dalam hal-hal praktis, pragmatik dan instan akan melahirkan pertanyaan-pertanyaan esensial. Agama dan Filsafat terlihat kurang mampu memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. 'Sesuatu' harus mampu memberi jawaban yang dapat memuaskan pertanyaan mereka. Pertanyaan-pertanyaan itu dapat dijawab secara ferbali oleh filsafat. Namun karena pertanyaan dimaksud bukan bermakna literar, maka selalin memberi jawaban juga diperlukan solusi. Agama yang menawarkan halal-haram, hitam-putih tidak mampu menghilangkan dahaga manusia modern. Menjalankan agama menurut kaidah fiqih saja akan hambar. Karena itu di dalam ketaatan pada ajaran fikih, terdapat sebuah nuansa yang indah bila dirasakan, dinikmati dan dihayati. Saya kira itulah Tasawuf. Tasawuf, selain mampu memberi kenikmatan juga harus mampu melahirkan jawaban-jawaban pada pertanyaan-pertanyaan yang ekstrim dan mendalam yang datang dari perenunungan terdalam manusia. Di samping ini, rasa yang nikmat dalah tasawuf juga harus mampu melahirkan pribadi yang memiliki etos kerjatinggi dan berbudi luhu. Jadi mana mungkin ada dualitas antara 'falsasi' dan 'akhlaki' dalam tasawuf. Keduanya berjalan seiring sejalan, saling melengkapi. Senyawa!

Tidak ada sufi yang melanggar dari syariat. Kalau ada, dialah yang disebut pseudo sufi. Sufi jadi-jadian, sufi bajakan. Prof. Dr. Abdul Hadi WM selalu memperingatkan agar jangan sekali-kali mempertentangkan antara tasawuf dengan fikih.

Hadi memflash back bagaimana ulama dahulu paham benar ilmu-ilmu agama juga sangat menguasai ilmu-ilmu lainnya. "Jabir Ibnu Hayyan di samping ahli Kimia, ternyata juga seorang ulama tasawuf" katanya. Dia memperingatkan kaum muslim harus memahami ilmu agama secara utuh dan menyeluruh lalu dia mempelajari filsafat. "Filsafat melahirkan ilmu-ilmu eksak yang melahirkan teknologi. Teknologi dibutuhkan untuk memudahkan kita menjalankan agama". Dia memperingatkan segala macam ilmu yang dipelajari bila tidak mendekatkan kita pada Allah harus segera ditinggalkan "apalagi bila menjaukan kita dari Allah".

Pesan Hadi memang sangat tepat. Namun saya melihat di masa depan kita tidak akan mampu lagi melahirkan muslim yang beriman sekaligus memiliki keahlian luar biasa di bidang ilmu. Alasannya adalah cara kita mempelajari agama sekarang sudah sangat berbeda.

Ilmuan muslim dahulu terlebih dahulu mempelajari dan mengamalkan agama saat usia dini. Setelah amal dan ilmunya mantap barulah mereka belajar ilmu-ilmu lain. Karena bekal agama mereka dalam, setiap cabang dan tingkatan ilmu lain mereka pelajari semakin menambah keimanan mereka.


Husain Herianto pada kesempatan itu menceritakan astronom masuk Islam karena menemukan ketakjuban pada pemikiran Arabi di tengah pergelutannya dengan ilmu tentang angkasa itu. Astronom menemukan jawaban-jawaban yang mengesankan atas pertanyaan-pertanyaannya mengenai ilmu astronomi.

Generasi muslim hari ini dan akan datang terlebih dahulu disibukkan ilmu-ilmu eksak. Lalu baru mempelajari agama sepintas lalu. Sistem pendidikan sekarang memaksakan penguasaan ilmu eksak dan sama sekali tidak memrioritaskan pembelajaran agama. Pembelajaran agama sekarangpun dipelajari sebatas diketahui, bukan untuk diamalkan. Padahal ilmu agama itu dipelajari untuk diamalkan. Mengamalkannya harus dibiasakan sejak usia dini. Di samping itu, diperlukan sebuah lingkungan yang mendukung pengamalan itu. Ini semua tidak dimiliki oleh kita sekarang dan akan datang.

Mengenai kecenderungan akan tasawuf oleh manusia modern seperti yang sering dikemukakan Haidar Bagir dan Armahedi Mahzar, ini benar. Tetapi motifnya adalah tasawuf dijadikan pelarian sementara. Manusia masa depan akan lebih banyak melakukan maksiat berbarengan mengikuti tarekat tertentu. Fenomena ini tengah menggejala pada masyarakat kita saat ini terutama mereka yang tinggal di perkotaan. Dan di masa depan model seperti ini akan mewabah pada seluruh ummat Islam. Inilah yang di khawatirkan Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer. Dia menolak pengistilahan 'Sufi Urban' atau 'Tasawuf Kota'. Noer tidak ingin orang-orang yang kumpul-kumpul bersama, berbaju seragam putih semua, mendengar cerama, berzikir-zikir lalu menangis berjamaah disebut kelompok sufi.  Fenomena ini sudah populer di perkotaan. Dan saya mengindikasikan ini adalah zaman fitmah, di mana mereka menangis-nangis sementara mengingat dosa lalu kembali berbuat dosa. Kalau menganggap pendapat ini fitnah, maka ajak tiap-tiap "sufi urban" itu merenungkan pendapat ini.

Hadi membela Fansury yang dituduh pseudo sufi. Bahkan dia mengatakan Fansury sendiri adalah pengikut tarekat Qadariyah. Karena itu tidak mungkin ajaran Funsuty melanggar syari'ah. Katanya kondisi kehidupan Raniry sangat berbeda denga Raniry. Jadi menurutnya tidak tepat sama sekali mempertentangkan kedua pemikiran kedua tokoh itu. Fansury adalah filsuf sekaligus penyair. Jadi alampikirnya tidaklah sama dengan Raniry. Yang bermasalah adalah orang yang mempertentangkan keduanya. Beda arah, beda tujuan.

Hadi juga tidak sepakat mengatakan tasawuf itu sama dengan ajaran Hindu. "Hindu wariskan Borobudur, tasawuf wariskan ilmu" katanya. Parnyataan Hadi tidak sepenuhnya benar seba Hindu juga mewarikan kebijaksanan yang positif dan Islam juga mewariskan batu nisan.

Hadi juga sepakat penentangan Raniry atas Fansury didasarkan kepentingan politis. Dr. Oman Fathurrahman menduga terjapat rentang waktu yang cukup lama antara fansury denganRaniry. Karena karya-karya Fansury yang sampai ke tangan Raniry adalah naskah yang sudah mengalami beberapa kali pengalinan sehingga diindikasikan menyimpang dari pemikiran Fansury yang sebanarnya. 

Dr. Oman Fathurrahman menginformasikan sebuah berita yang agak mengejutkan. Dia mengatakan di Arab ada sebuah nisan bertulis nama Hamzah Fansury. Tercatat tahun mangkatnya 1527. Bila benar itu nisan Hamzah Fansury yang kita maksud, maka gugurlah banyak teori belakangan yang meyakini makam Fansury adalah di Aceh Singkil. Bila teori ini benar maka semakin benar pula bukti bahwa durasi waktu antara Fansury dengan Raniry itu jauh. Bila semakin jauh, semakin tidak otentik pemikiran Fansury yang sampai ke tangan Raniry karena estafet penyalinan naskah semakin banyak.

Hadi mengatakan karakter masyarakat Jawa sukanya pada hal-hal yang mistik, erotik, musik dan sedikit politik. Karena itu, tarekat sangat tepat sebagai wahana pendidikan karakter bagi masyarakat tersebut. Instrumen yang digunakan misalnya wayang. "Kalau Islam model Wahabi yang dibawa, tak akan ada orang Jawa yang masuk Islam" katanya.

Pembicara lainnya, Agus Sunyoto mengatakan tasawuf Falsafi mengesankan tasawuf sebagai pemikiran. Padahal Tasawuf Falsafi itu adalah karya filosofis yang berangkat dari usaha penyampaian pengalaman mistis melalui uraian filosofis atau syair-syair.

Menurut Sunyoto, tasawuf itu tidak sama dengan filsafat. Katanya tasawuf itu ilmu rasa. Dianya untuk dirasakan bukan dipikirkan. Tasawuf itu keheningan, bukan seperti filsafat yang terus menerus melahirkan kata-kata.

Sunyoto menolak tasawuf dianggap aliran yang pasif dan hanya memikirkan aspek keduniawian. Dia mengingatkan bahwa aliran-aliran tarekat di Nusantara adalah lembaga yang mengorganisir dan melahirkan pasukan untuk melawan kolonialis dari Abad ke-18 hingga awal abad ke-20.

Sunyoto adalah orang yang punya perspektif yang sangat berbeda tentang seorang ahli makrifat dari tanah Jawa, Syeikh Siti Jenar.

Seseorang bertanya pada Jenar tentang makna puasa. Jenar menjawab puasa itu identik dengan Idul Fitri. Idul fitri itu itu maknanya fitrah. Fitrah manusia adalah Adam. Fitrah Adam dekat dengan Tuhan. Karena makan Adam Jatuh. Karena jatuh Adam Jauh dengan Tuhan. Untuk naik lagi dan dekat dengan Tuhan kita tidak boleh makan.

Setahu kita Jenar dibunuh karena ajarannya yang sesat. Kepalanya dipenggal. Setelah kepala terpisah dari badan, darahnya mengalir deras dan menyebar. Kapala yang putus terbang mengelulungi badan sebanyak tujuh kali. Lalu mulutnya memerintahkan darah untuk kembali masuk ke badan bila ingin ikut masuk surga. Maka darahpun kembali ke badan. Demikian kisah tragis kematian Jenar yang kita tahu. Kita tahu ajarannya ditentang Wali Songo.

Namun menurus Sunyoto kisah di atas tidak memiliki referensi yang nyata. Cerita di atas menurutnya mitos. Menurutnya apa yang diajarkan Jenar adalah tauhid yang lurus. Perseteruan Jenar sebenarnya bukanlah perseteruan dengan Walo Songo melainkan dengan raja Demak. Dalam filosofi Jawa, raja dianggap sebagai perwakila Tuhan. Sebab itu rakyat harus memberi penghormatan yang sangat tinggi pada raja. Penghormatan pada raja laksana perhormatan terhadap Tuhan ternyata masih diwariskan kerajaan Islam Demak. Hal inilah yang tidak disepakati Jenar. Menurut Jenar, semua manusia adalah perwakilan Tuhan. Raja tidak patut diberi penghormatan yang berlebihan karena dia manusia juga. Karena itulah pihak kerajaan melancarkan fitnah kepada Jenar dengan mengesankan dia melanggar aturan agama untuk memperoleh simpati rakyat.

Wali Songo melihat pemikiran Jenar tidak bertentangan dan bahkan sudah menempuh jalan Islam yang benar. Namun karena tidak ingin terkesan membenarkan Jenar hingga mereka pula dianggap subversif, Wali Songo tidak melakukan pembelaan secara terang-terangan kepada Jenar. Sunyoto mengatakan sebenarnya Jenar disembunyikan oleh Wali Songo dari ancaman pihak kerajaan.

Husain Herianto pada kesempatan tersebut mengistilahkan syariah seperti tangan dan kaki. Sementara mata adalah tasawuf. Maka walaupun anggata badan lainnya ada, tanpa mata, maka tidak akan bisa mengendarai sebuah tunggangan.

Saya melihat tasawuf itu bisa semakin popoler adalah karena adanya konflik dengan ahli fiqih. Konflik terkadang diperlukan untuk memotifasi masing-masing pihak untuk semakin bangkit. Yang tidak dibenarkan adalah saling mengkafirkan dan saling menghujat.

Menurut Herianto, masyarakat awam tidak memerlukan pemikiran karena di lingkungan mereka tidak banyak pilihan. Pilihan mereka cuma dua, bauk dan buruk. Kalau ingin menjadi baik, mereka tinggal mengikuti kebaikan-kebaikan yang telah ada berdasarkan tradisi. Sementara menurutnya pemikiran itu diperlukan di tengah masyarakat unbar karena di sana ada sangat banyak pilihan kebaikan (keburukan juga demikian). 

Hadi mengatakan sebenarnya syair-syair Fansury sama-sekali tidak kontrofersial. Semua petikan puisinya mengajarkan etika-etika kebaikan untuk diamalkan secara praktis. Syairnya memang demikian adanya. Namun kitab-kitabnya ada yang mengajarkan unsur pantheistik dan beberapa masih bisa kita temukan hingga saat ini.  Saya kira bisa jadi pula lagi bahwa banyak kitab-kitab dan karya puisinya yang kontrofersial telah dimusnahkan Raniry.

Mentra 58, 07-08-2011

Syair-syair Fansury yang populer di tengah-tengah kita seperti Syair Perahu (SP), Syair Dagang (SD) dan Syair Burung Pingai (SBP) tidak ditemukan ajaran Wujudiah yang mencolok. Padahal stigma pada penyair Melayu itu adalah ajarannya yang kontrofersial itu. Kalau memang benar demikian, maka benarlah Raniry telah memusnahkan karya-karya Fansury yang berbau Wujudiyah.

Filsafat Aceh Hamzah Fansury


Dalam SP, memang terdapat sebaris bunyi yang agak mengejutkan pada baris terakhir dari penggalan bait berikut ini:

Lailaha Illallah itu kesudahan kata,
tauhid dan ma'rifat semata-mata,
hapuskan hendak sekalian perkara,
hamba dan Tuhan tiada berbeda.

Maksud dari baris keempat kuripan diatas bukanlah ingin menyamakan Tuhan dengan manusia. Kita semua tahu dan wajib pecaya bahwa tidak ada yang sama dengan Allah sesuatu apapun. Maksud tiada berbeda adalah sesuai Firman Allah dalam sebuah Hadits Qudsi. Di sana Allah memberitahukan bahwa sesiapa di antara manusia yang bertakwa kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dan menjalankan segala perintah serta menjauhi sebala larangan Allah, maka Dia menjadi kakinya ketika berjalan, menjadi lisannya ketika berucap dan menjadi tangan-Nya ketika berbuat. Ini dimungkinkan karena setiap perkara yang dilakukan manusia adalah berdasar isi hati melalui fungsi otak.

Dzikir Allah kiri-kanannya
Fikir Allah rupa badannya(SBP)

Karena di dalam hati orang yang beriman hanya ada Allah, maka Allahlah yang menjadi pelaku setiap perbuatan orang yang  Lailaha Illallah itu menjadi awal, akhir dan kesudahan kata yang melingkupi hatinya. Di samping itu, tauhid menjadi esensi kehidupannya  dan ma'rifat akan Allah melingkupi pikiran semata-mata. Prasyarat lainnya menjadi manusia yang dimaksud di atas adalah dianya telah melepaskan diri dari segala kepentingan duniawi. Karena itu, sesiapa yang ingin termasuk kedalam golongan orang yang disebutkan dalam Hadits Qudsi tadi, maka dia harus mampu menghapuskan segala kehendak atas segala sekalian perkara yang Allah larang dan tidak suka.Inilah yang dimaksud hamba dan Tuhan tiada berbeda. Bukan dimaksudkan untuk kufur dengan menyamakan Allah dan manusia sama.

Syair sufi memang bahasa simbolik. Jangan dianya diartikan secara verbal. Jadi apa yang diungkapkan Massingnon dan Hadi di atas tidaklah keliru.

Di antara syair-syair Fansury yang "tersisa", Syair perahu adalah karya yang paling populer karena di dalamnya mengandung pesan yang sangat berguna tentang bagaimana seharusnya kita memaknai hidup dan menjalankan perintah agama. Syair itu dinamakan "Syair Perahu" karena di dalamnya diuraikan bagaimana agama yang mulia ini (Islam) diumpamakan sebagai sebuah perahu yang berguna mengantarkan untuk mengharungi  samudera kehidupan. Perangkat-perangkat agama seperti syahadat diumpamakan tali dan tauhid dibaratkan sauh. Dua perangkat yang tidak boleh tidak ada di dalam sebuah perahu.

Syair Perahu secara keseluruhannya adalah ajaran tentang aqidah. Syair itu mengajak manusia untuk mempersiapkan bekal berupa akidah tauhid yang mantap guna mempersiapkan bekal ketika kelak berada di alam kubur.

Inilah gerangan suatu madah
mengarangkan syair terlalu indah
membetuli jalan tempat berpindah
di sanalah i'tikat diperbetuli sudah. (SP)

Kabar pembuka SP terlalu indah. Ini memang benar sebuah madah, yaitu syair-syair pujian dan pesan-pesan. Pujian pada Empunya langit dan bumi dan pada Nabi junjungan. Penyair Arab juga suka menggubah madah sebagai piji-pujian pada ulama dan penguasa yang bijak. Pesan-pesannya ditujukan pada handai taulan.

Tema utama SP adalah membetuli jalan tempat berpindah. Jalan dimaksud adalah menempuh sisa hidup di dunia. Dunia adalah tempat persinggahan untuk selanjutnya berpindah ke alam barzakh.
Dalam SP Fansury memperingatkan bahwa selama hidup di dunia, setan dan keinginan-keinginan yang dapat menjauhkan manusia dari Allah yang diistilahkan sebagai 'angin' dan 'hiu' selalu membuat aqidah pada Allah selalu terancam.

banyaklah di sana ikan dan hiu,
menanti perahumu lalu dari situ, (SP)

riaknya riaknya rencam ombaknya besar
annginnya song-song (mem)belok sengkar (SP)

Kalau mengatakan ajaran Fanrury adalah pseudo sufi, maka itu tampak keliru. Sebab dalam setiap syairnya dia menganjurkan pentingnya syariat. Dalam pandangan Fansury, syariat adalah prasyarat mencapat derajat ma'rifat, yaitu ilmu akan pengenalan langsung pada Allah.

Syrariat akan tirainya
Tariqat akan bidainya
Haqiqqat akan ripainya
Mai'rifat yang wasil akan isainya (SBP)

Dalam pandangan Fansury serta sufi-sufi lain, derajat ma'rifat adalah derajat tertinggi yang dimiliki seorang hamba setelah dia berhasil menempuh haqiqat yang didahului pengamalan syariat Allah sebagaimana dicontohkan Nabi,

syariat Muhammad ambilkan suluh
Ilmu hakikat yogia kau pertumbuh (SD)

serta thariqat yang merupakan jalan penyucian diri. Fansury memesankan, ilmu hakikat adalah tempat manusia memperoleh derajat tertinggi.

Ilmu hakikat yogia kau ramu
Supaya terkenal 'ali adamu (SD)

Hanya dengan derajat tertinggi, barulah manusia memiliki derajat ma;rifat yang dengan itu dia dapat menjadi: hamba dan Tuhan tiada berbeda.

Dalam literasi tasawuf yang mengusung bahasa simbolik, segala kata sering disalah makna. Misalkan kata 'fakir' diartikan hidup serba kekurangan. Padahal maksud fakir itu selalu bermaksud untuk melawan segala nafsu dan keinginan yang tiada dapat mengantar manusia semakin dekat pada Allah.

Kenal dirimu hai anak dagang
jangan lupa akan diri kamu (SD)

Kenal dirimu hai anak dagang!
di balik papan tidur terlentang (SP)


Dalam SD dan syair-syair lainnya, kata 'anak dagang' jangan diartikan makdudnya kepada kata 'dagang' yang kita pahami dalam bahasa kita sekarang yakni transkasi jual beli. Kata itu dipakai di Melayu sebagai makna orang yang pergi menuntut ilmu. Bahkan sampai saat ini di Aceh, 'pergi berdagang'  masih dimaksudkan seorang muda pergi menuntut ilmu dan menetap di pondol pesantren atau di Aceh disebut dayah.

Dayah, dan sistem pendidikannya masih relevan hingga kini untuk dijadikan sebagai metode pengajaran yang dapat membentuk karakter peserta didik sebab dalam Islam, yang diutamakan dari pendidikan adalah pengamalannya, bukan penelitian dan sebatas pemikiran.

Mentra 58, 11 Agt. 2011
»»  READMORE...