Selasa, 03 April 2012

Sejarah pendidikan Ali Hasjmy


Dilahirkan di Aceh Besar dengan nama Muhammad Ali, putra dari Teungku Basyim dan Cut Beuleun ini, selain disebut sebagai pilitisi tiga zaman (Rusdi Sufi & Agus Bidi Wibowo, 'Tokoh-tokoh Pendidikan di Aceh Awal' Abad XX, Banda Aceh: Badan Perpustakaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, 2007 h. 114-115), Ali Hasjmy juga juga dikenal sebagai penulis dan pendakwah. Sebagai politikus beliau banyak melakukan pergerakan sejak usia muda hingga menjadi Gubernur Aceh pada tahun 1957. Transisi masyarakat dari keadaan konflik DI/TII kepada keadaan damai adalah salah satu tugas beliau terbesar sebagai seorang kepala pemerintah daerah. Pada masa pemerintahannya, Masjid Raya Baiturrahman mengalami pemugaran yang luar biasa.
     Ali Hasjmy amat sangat besar perhatiannya pada upaya pencerdasan anak bangsa. Beliau mengkonsepkan dan mendirikan komplek pendidikan di Darussalam yang dikenal dengan Kopelma. Dua perguruan tinggi terbesar di Aceh, IAIN Ar-Raniry dan Universitas Syiah Kuala, berdiri di sana. Dua Universitas itu adalah kebanggaan masyarakat Aceh hingga digelari Jantong Hetee, atau jantung hati masyarakat Aceh.
     Ali Hasjmy juga sempat menjadi Rektor IAIN Ar-Raniry. Pada perguruan tinggi itu juga beliau dianugerahi gelar Guru Besar  bidang Dakwah. Kepabelitas dan kontribusinya yang besar menyebabkan Ali layak mendapatkan gelar tersebut.
     Sebagai iltelektual, Ali menguasai berbagai disiplin ilmu meski kebanyakan dipelajarinya secara otodidak. Beliau sempat bersekolah di sekolah rendah milik Belanda, lalu melanjutkan di Thawalib Padang Panjang, kemudian kenbali Ke Seulimum untuk mengajar. Selanjutnya kembali ke Tanah Minang untuk kuliah di Kuliyah Islamiyah Padang. Saat kembali ke Seulimum lagi, Ali menjadi pimpinan sekolah di sana. Ali pernah kuliah di UISU Medan, namun tidak tamat. Itu tidak membuatnya berhenti mencintai ilmu. Ali terus belajar dan belajar.
    Ali Hasjmy adalah salah satu dari sekian masyarakat Indonesia yang begitu mencintai bangsanya. Dia turut mengorbankan apapun yang ia miliki demi kabaikan Tanah Air. Dia ambil andil yang sangat besar dalam melawan penjajah Belanda. Bersama rekan-rekannya dia mengupayakan penyadaran pada masyarakat melalui media massa.
    Tidak hanya itu, dia juga ikut memimpin pasukan untuk menyarang pusat-pusat pertahanan Belanda. Ali punya bukti bahwa satu-satunya wilayah Nusantara yang tidak sempat dijajah Belanda adalah Aceh. Sekalipun Sulthan Aceh Darussalam terakhir, Muhammad Daud, sempat ditangkap dan diasingkan keluar Sumatera, Sulthan tidak pernah menandatangani penyerahan kekuasaan kepada Belanda. Selain itu, perlawanan masyarakat juga terus terjadi di seluruh pelosok Tanah Aceh.
     Aceh dikenal sebagai pusat pembelajaran ilmu agama Islam sejak lama. Ini mengindikasikan telah berdirinya lembaga pengajaran Islam sejak lama. Saya meyakini bahwa pondok pesantren di Aceh yang dikenal dengan sebutan 'dayah' adalah asimilasi dari tempat pengasuhan dan pengajaran shaolin pada masa sebelum agama Islam. Setelah ulama-aulia datang ke Aceh untuk menyebarkan agama Islam, maka mereka membujuk para pemimpin lembaga itu untuk masuk Islam. Selanjutnya semua murid yang diasuh diislamkan dan pengajaran agama pada mereka mengikupi pola pengajaran hikmah agama sebelum Islam.
      Dalam 'Bunga Rampai Revolusi dari Tanah Aceh'  Ali Hasjmy mengatakan bahwa pengertian pendidikan adalah : Penanaman rasa kesadaran beriman dan beramal shalih yang berdasarkan ilmu pengetahuan, sehingga karenanya manusia menjadi makhluk sosiaal yang menghayati ajaran-ajaran Islam.... (1976: 52). Iman adan amal shalih mensyaratkan adanya kesadaran. Iman dan amal shalih adalah hal mustahil tanpa adanya kesadaran. Ketika memakai kata 'menghayati' seharusnya tidak perlu lagi dipakai ''dalam segala bidang kehidupan'' karena kata itu artinya: menyatuya sikap, tindakan dan pikiran dalam jiwa sehingga sudah pasti mengada dalam setiap nafas.
        Ali (ibid, h. 53) menemukakan setidaknya ada empat tujuan pendidikan. Pertama, membina manusia yang beriman dan beramal shalih sehingga memenuhi syarat menjadi khalifatullah untuk memakmurkan bumi. Kedua, Membina manusia yang berbuat baik dan mentang keburukan. Ketiga, membina manusia yang mampu melaksanakan dakwah Islam. Dan keempat, membina manusia yang mampu membela kepentingan kaum lemah.             Salah satu sebab dijadikannya bahasa Melayu sebagai bahasa resmi Indonesia adalah karena bahasa inilah yang dijadikan bahasa pendidikan di Aceh. Karena pelajar se-Nusantara diajarkan dengan bahasa Melayu lalu mereka mengajarkan dengan bahasa yang sama di tempat masing-masing sepulang belajar, maka menyebarlah bahasa Melayu ke segenap pelosok Nusantara.
       Di Aceh, kata Ali ( h. 65)  terdapat tiga lembaga pelaksana pendidikan sesuai termaktub dalam Hukum Kerajaan Aceh Darussalam (Kanun Meukuta Alam). Pertama adalah Balai Setia Hukama, sebagai balai tempat berkumpulnya ulama dan ahli pikir pendidikan untuk membahas dan mengembangkan pendidikan. Balai Setia Ulama adalah jawatan Pendidikan/Pengajaran yang bertugas mengurus urusan-urusan pendidikan. Terakhir adalah Balai Jama'ah Himpunan Ulama, balai ini semacam study club tempat ulama/sarjana berkumpul untuk bertukar pikiran, berseminar, membahas masalah dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan.
     Ali menguraikan, terdapat lima jenjang pendidikan di Aceh Darussalam. Pertama adalah meunasah. Di sinilah tempat anak-anak mendapatkan pengajaran pendidikan pertamanya. Di sini, diajarkan dasar-dasar agama Islam seperti  bahasa Arab, membaca Al-Qur'an, cara beribadah, akhlak, rukun Islam, rukun iman dan menyanyi. Meunasah terletak di setiap desa. Kini, meunasah tinggal sebagai balai pertemuan desa dan mushalla desa. Rangkang di bangun di setiap pinggir masjid yang dibangun di setiap Mukim. Di sana disediakan penginapan dan diajarkan fiqih, tauhid, tasawuf, sejarah dan bahasa Arab. Ini adalah kelanjutan dari pendidikan di meunasah. 
           Jenjang pendidikan selanjutnya adalah dayah. Dayah juga kadang berada di masjid, sering juga dayang berdiri sendiri. Di setiap dayah biasanya didirikan sebuah ruang utama yang luas dan dipakai sebagai tempat shalat fardhu berjamaah. Semua pelajaran di dayah menggunakan kitab berbahasa Arab. Di sana di ajarkan fiqih, mu'amalah, tauhid, tasawuf/akhlak, geografi, sejarah dan tata negara.
     Dayah Manyang atau Dayah Teungku Chik adalah kelanjutan pendidikan dayah. Ilmu yang diajarkan seperti hukum pidana, fiqih munakahat, hukum tatanegara, sejarah Islam, sejarah negara-negara, ilmu mantiq, filsafat, tasawuf, ilmu falak, tafsir dan lain-lain. Ada juga dayah manyang yang hanya berkonsenterasi mengajarkan pelajaran tertentu dari yang disebutkan di atas.
         Jami'ah Baiturrahman, kata Ali (h. 68) hanya dibuka di ibukota kerajaan, Kutaraja (Banda Aceh) khusus bagi lulusan Dayah Manyang. Lembaga ini adalah sebuah universitas yang membuka berbagai fakultas seperti Fakultas Tafsir, Fakultas Kimia, Fakultas Kedokteran, Fakultas Sejarah, Fakultas Sosial dan Politik dan Fakultas Filsafat. Tenaga pengajar di sini tidak hanya dari dalam negeri tapi juga didatangkan dari Persia, India, Arab dan Turki. Tapi saya curiga universitas semacam ini tidak hanya dibuka di Kutaraja saja.  
  Melalui Ali Hasjmy kita menemukan fakta begitu banyaknya disiplin yang dipelajari di Aceh, tidak hanya seperti yang terjadi sekarang, hanya mempelajari tauhid, fiqih dan tasawuf. Lucunya, pelajaran-pelajaran selain itu dikecam dan disebut ilmunya orang kafir. Dulunya juga para ulama gemar menulis dan karya-karya mereka dipelajari dan banyak yang dijadikan rujukan wajid oleh lembaga-lembaga pendidikan di seluruh Tanah Air.
      Perang Aceh yang berlangsung kurang lebih setengah abad telah menghancurkan seluruh lembaga pendidikan dan membunuh lebih separuh jumlah warga Aceh. Di pihak Belanda sendiri kerugian yang diderita juga luar biasa, hampir-hampir membuat Nederland Raya bangkrut. Sebab dari perlawanan bangsa Aceh yang tidak pernah menyerah adalah karena Islam telah menjadi satu dengan jiwa mereka.
       Mengingat perlunya pendidikan agama yang harus terus diajarkan pada generasi mendatang, maka atas musyawarah para ulama yang sedang bergerilya, mereka memutuskan sebagian dari mereka turun gunung untuk menghidupkan kembali aktivitas pengajaran bagi generasi baru di antara mereka adalah Teungku Fakinah dan Tuanku Raja Keumala. Reformasi pendidikan juga diterapkan. Belanda melarang pengajaran ilmu-ilmu selain aqidah, ibadah dan tasawauf.
     Model pendidikan modern yang dipelajari dari kalangan reformis di Timur-tengah banyak dianut para ulama di Aceh setelah turun gunung. Misalnya Teungku Fakinah yang banyak mempelajari dan menerapkan model pembaruan Muhammad Abduh dari Mesir.
     Selain Teungku Fakinah, Syaikh Abdul Hamid Samalanga juga punya peran penting dalam pembaruan pendidikan di Aceh. Karena dikejar Belanda sebab terlibat Serikat Islam (SI), beliau melarikan diri Ke Pulau Pinah lalu terus ke Makkah. Di sana beliau berjumpa dengan ulama dari berbagai penjuru dunia Islam seperti Irak, Mesir, Maroko, Aljazair, India dan lainnya. Pertemuan dengan mereka menginspirasikan beliau untuk memperbarui pendidikan di Aceh. Melalui surat Kabar terbitan Mekkah, Ummul Kura' beliau mengirimkan pesan-pesannya kepada Tgk. H. Abdullah Ujong Rimba. Lalu Abdullah mendiskusikan pesan ini kepada para ulama di Aceh termasuk Tgk. Muhammad Daud Beureueh. Kemudian para ulama menyusun kurikulum pendidikan modern bagi dayah-dayah di Aceh. Oleh Persatuan Ulama seluruh Aceh (PUSA) didirikan jenjang pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, lalu Tsanawiyah dan Aliyah. Mata pelajaran seperti Geografi, Kedokteran Kimia, dan beberapa pelajaran umum lainnya kembali dimasukkan sebagai materi pelajaran.
     Selain PUSA, Muhammadiyah yang sudah melebarkan sayapnya di Aceh sejak 1920-an juga ambil andil dalam mendirikan lembaga-lembaga pendidikan di Aceh. Pada masa itu telah sangat banyak berdiri lembaga pendidikan. Krisis tenaga pendidik diatasi dengan mendatangkan guru dari luar Aceh seperti Tanah Minang, Malaka dan Timur Tengah.
    Satu dekade kemudian, Aceh sudah dapat memenuhi kebutuhan pendidik setelah pemuda daerah yang belajar ilmu pendidikan kembali dari Tanah Minang, Malaka dan Timur Tengah. Selanjutnya lembaga pendidikan khusus untuk menghasilkan tenaga pendidik dibangun sendiri di Aceh seperti di Banda Aceh, Selimum dan Bireuen.
     Saya melihat sampai sekarang ilmu Logoka dan Filsafat perlu di ajarkan kembali di Aceh sebagai senjata untuk melindungi agama dari aliran-aliran yang tidak jelas asal-muasalnya. Dulu kita pernah berjaya dengan kencangnya pembelajaran kedua ilmu tersebut. 
     Ali Hasjmy sendiri menginginkan di setiap kawasan di Aceh didirikan sebuah lingkungan yang menjadi pusat keilmuan di mana di sana diharapkan menjadi tempat para kaum muda mengaplikasikan potensi masing-masing yang bermanfaat bagi diri, keluarga, negara dan yang paling penting adalah agama. Cita-cita ini telah terwujud di kawasan Kopelma Darussalam, Banda Aceh. Adalah tugas kita selaku generasi muda untuk mengembangkan lingkungan semacal Kopelma di daerah-daerah lain di Aceh.
         Kalaupun kita itu berhasil, maka masih belum ada apa-apanya dibandingkan perjuangan leluhur kita dalam mengorbankan nyawa demi wibawa bangsa.
»»  READMORE...