Sebenarnya yang dicari manusia bukanlah kesenangan duniawi. Ketika kegelisahan yang datang terus-menerus, manusia mencoba mengidentifikasi penyebab kegelisahannya dan menemukan hipotesa bahwa ada suatu keinginan duniawi yang belum dicapai. Manusia lalu mencurahkan segenap potensi untuk mendapatkan keinginan duniawi itu.
»» READMORE...
Setelah manusia berhasil mendapatkan keinginan duniawi yang dikiranya sebagai obat bagi kegelisahan yang diderita, dia memanfaatkan pendapatan dunia itu seoptiman mungkin.
Setelah itu ternyata kegelisahannya menjadi betambah. Kali ini kegelisahan yang semakin parah itu bercampur bingung, bingung kenapa setelah yang dia kejar telah didapatkan namun kesenangan belum ditemukan juga.
Awalnya kita mengira kegersangan jiwa yang dialami adalah karena kurangnya ilmu. Maka berangkatlah kita ke tempat yang sangat jauh untuk mengumpulkan ilmu-ilmu di sembarang kuliah, ceramah-ceramah dan seminar-seminar. Setelah pundi-pundi pengetahuan kita peroleh, kok, malah yang terasa adalah semakin gelisah.
Terkenang kita akan Buya Syaikh Muhammad Muda Waly Al-Chalidy yang merasa kegersangan jiwa lalu meminta izin kepada ayahanda tercinta untuk berangkat ke arah Kutaraja guna menurut ajakan ruhani menuntut ilmu kepada alim ulama.
Setiba beliau di Negeri Raja mulailah beliau mencari sesiapa yang patut dijadikannya guru. Beberapa dayah yang beliau singgah terasa kurang tepat baginya setelah bertemu dengan masing-masing guru besarnya. Mereka meminta Syaikh Muda untuk mengajar saja karena apa saja yang diajarkan di dayahnya telah Syaikh Muda punya kuasa.
Di dayah Krueng Kale beliau hanya menginap semalam. Abu Krueng Kale merasa Muda patut mencari ilmu di tempat lain saja. Atas petunjuk Allah Azzawajalla berangkatlah Muda ke Tanah Minang. Di sana beliau mulai belajar berbagai macam ilmu yang diajarkan di sana. Di Sekolah Normal beliau hanya bertahan tiga bulan. Muda merasa beberapa pelajaran yang diajarkan di sana bukanlah ilmu yang beliau cari, bukan ilmu yang mengantarkan pada ketenangan jiwa.
Terbesit pikiran dari Syaikh Muda untuk kembali ke Tanah Jamu saja. Seorang teman menyarankannya supaya tinggal sekejap lagi, siapa tahu ada beberapa faidah yang datang. Maka Muda menurut saja pinta temannya dan menetaplah beliau di Minang. Di sana banyak tetamu yang datang meminta petunjuk dan petuah atas perkara agama yang dirasa pelik. Meski usia masih muda ilmu Muda sangatlah dalam. Beliau bisa memuaskan hati sesiapa yang mencari petuah agama.
Atas pertikaian antara kaum tua dan abangan di Barat Sumatera Syeikh muda mampu melihatnya secara bijak. Betapa tidak, di Negerinya Beliau bahkan selalu menjumpai berbagai pertikauan di bidang agama. Pertarungan pemikiran antara ahli Fiqih denga ahli sufi yang sepanjang abad terjadi sampai kini masih selalu diangkat ke permukaan oleh para ahli perguruan tinggi.
Karena indah perangai, elok budi pekerti Muda Wali dinikahkan dengan seorang santriwati anak ulama tinggi yang juga dalam ilmu agamanya. Santriwati itu hanya menerima pinangan sesiapa yang mampu menjawab sebuah soalannya di bidang agama di mana pertanyaan itu belum mampu dijawab sesiapa ahli agama baik yang tua maupun yang muda.
Datanglah Buya menghadap calon istri dan ternyata beliau mampu menjawab soalan itu.Dipersungtinglah seorang gadis Minang yang dalam ilmu agama dan cantik parasnya. Perempuan seperti itu adalah segala kesenangan dunia terbaik yang pernah ada.
Secara lahiriyah pendidikan Syaikh memang terlihat kurang beraturan. Namun tidak begitu dalam pandangan Allah, Dia tahu ilmu yang layak bagi hamba yang Dia cintai. Jadi Allah sudah tentu mengatur rapi kebutuhan jiwa kekasihnya.
Setelah merasa tiba masanya kembali ke Tanah Jamu, beliau bergegas kembali ke Labuhan Haji. Setiba di kampung halaman Muda Waly mengungkapkan keinginan mendirikan pondok pesantren di tanah kelahiran. Mendengar keinginan itu semua masyarakat mendukung karena keinginan Syaikh itu adalah kebutuhan bagi mereka juga. Maka bergegaslah semua warga membantu apa saja yang mereka bisa guna mewujudkan cita dan hasrat akan ilmu pengetahuan dan hikmah.
Santri-santri dan warga semua bekerja secara perlahan dan cepat menimbun rawa-rawa dan mencari papan membangun balee dan penginapan untuk pengajian.
Belakangan di Aceh beredar ''fatwa'' haram hukumnya suami-istri berhubungan badan pada malam rabu. Kita tahu suara sumbang itu tidak punya sumber dalam Al-Qur'an dan tidak pernah pula Rasul ajarkan. Belakangan saya percaya pernyataan itu cara datangnya begini:
Kebetulan Abuya Muda Waly mengajar kaum ibu di Darussalam pada malam selasa dan kaum ayah diajarinya malam rabu. Semua santrinya yang mengaji malam berhenti belajar dari Abuya hingga malam larut. Lalu santri-santri itu menginap di penginapan komplek dayah yang telah disediakan, tidak pulang ke rumah lagi karena malam sudah larut. Dulu kendaraan masih dapat dihitung jari, penerangan juga belum seperti sekarang ini. Jadi meski sudah punya laki-bini, semua menginap di komplek Darussalam.
Kita tahu jatah kaum ayah diajari Abuya malam Rabu. Jadi malam Rabu semua kaum ayah menginap di dayah. Kebiasaan Abuya mengajar kaum ayah di malam Rabu dituruti murid-murid beliau yang kini menyebar ke seluruh pelosok Aceh dengan membuka dayah-dayah dan membuka pengajian untuk kaum ayah pada malam Rabu. Karena itu, di Aceh menjadi tradisi kaum ayah mengaji pada malam Rabu. Karena menginap di dayah, maka tidak sempatlah kaum ayah tidur dengan istrinya. Selanjutnya sesiapa yang sempat menyetubuhi istri di malam Rabu berarti dia tidak pergi mengaji. Ini dianggap ganjil waktu itu, menjadi aib. Sebab itu sesiapa yang sempat tidur dengan istri di malam Rabu menuai aib.
Saat ini pengajian pengajian sering digelar pada malam Rabu menikuti kebiasaan yang turun-temurun itu. Di surau, balee-balee, masjid dan dayah-dayah sampai sekarang kita dapat menjumpai pengajian untuk orang tua-tua. Pembahasannyapun kitab-kitab tinggi semacam Tuhfah. Jangan dikhawatirkan banyak peserta pengajian yang tidak paham karena kebanyakan masyarakat di Aceh yang tua-tua kini adalah alumni dayah, jadi adalah mudah bagi mereka memahami kitab-kitab tinggi. Sesiapa yang yang tidak punya bekal dasar kitab kuning jangan takut turut serta mengaji karena ulama pensyarah sangat komunikatif sehingga pembahasan yang tinggi-tinggi di dalam kitab dapat dipahami sesiapa saja meski tampak berbelit-belit. Berbelit-belit ini adalah bagian dari upaya pensyarah agar analogi dan tamsilan diberikan dapat dipahami jamaah.
Seorang murid Syaikh Muda pernah bertanya karena penasaran ingin mengetahui kenapa Syaikh hanya terlihatnya memegang tasbih saja. Muridnya yang sangat dekat dengannya itu mengaku tidak pernah melihat Syaikh memegang benda apapun selain butiran tasbihnya. Dia hanya menemukan Muda Waly tidak menggenggam tasbihnya ketika beliau sedang shalat, makan, mengajar dan mandi.
Suatu ketika murinya itu memberanukan diri lalu bertanya kepada beliau akan pengalamannya tersebut. Dengan penuh hikmat, Buya Muda Waly memberi jawaban: ''Kalau memegang pena, timpul keinginan untuk menulis, Bila memegang pedang timbul keinginan untuk menebas. Bila memegang tasbih maka teringat selalu akan berzikir.''
Mengetahui pesan itu saya jadi teringat akan ulama-ulama besar yang menulis kitab tebal-tebal. Pastinya mereka sering memegang pena sehingga menghasilkal karya panjang panjang. Persoalannya adalah apakah mereka terpaksa meninggalkan tasbih untuk memegang pena atau memaksakan diri memegang pena melepaskan tasbih. Bila perkara pertama yang berlaku maka mereka adalah penerus Nabi mengampaikan hikmah pada ummat di zamannya. Bila perkara kedua yang berlaku maka mereka tidak lebih dari politikus di Senayan yang memaksakan segala macam cara untuk terkenal dan disanjung puji.
Ulama model pertama adalah mereka yang merasa sangat perlu menulis untuk memberikan penerangan bagi ummat. Mereka benar-benar terdesak dari dalam jiwa untuk mengabadikan pesannya, membagi pengetahuan dan hikmah kepada ummat melalui pena.
Dari tinjauan akademik, ulama-ulama Aceh memang sangat dalam ilmu agamanya, namun mereka menilai budaya tulis-menulis oleh ulama kita sangat kurang. Setelah Syaikh Abdurrauf hampir-hampir kita tidak menemukan lagi karya-karya ulama dari Aceh. Hanya beberapa karangan saja yang dapat kita temui seperti Syair Prang Sabi karya Tgk. Chik Pantee Kulu.
Lagi pula banyak ulama dahulu yang tidak menulis sendiri karya-karyanya, melainkan kuliah yang disampaikan dicatat muridnya lalu menjadi kitab-kitab mashur untuk zaman sesudahnya. Setahu saya semua syair dan karya agama Jalaluddin Rumi adalah ditulis oleh murid-muridnya. Kadang beliau mendiktekan puisinya, kadang dicatat muridnya atas inisiatif si murid sendiri.
Abuya Muda Waly memang meninggalkan beberapa karya tulis, namun itu tidak seberapa dibandingkan segala macam ilmu agama yang sangat mendalam yang beliau kuasai. Keputusan Buya yang seperti itu memberi kesan pada saya bahwa ibadah yang dilakukan secara ikhlas, konsisten dan banyak adalah lebih baik dimata Allah daripada keranjingan menulis.
Saya juga menemukan dimasa kini kita terlalu banyak mempelajari ilmu namun sangat sedikit yang kita amalkan. Kebanyakan di antara kita kini dilaknat Allah karena banyak tahu namun minim praktik.
Masyarakat muslim zaman dulu tidak terlalu mendalam penguasaan ilmunya, namun mereka segera mengamalkan apa yang mereka tahu. Kita sekarang ini terlalu keranjingan menutut ilmu namun sangat malas mengamalkannya. Pengetahuan yang banyak yang dimiliki generasi muslin sekarang ini hanya dijadikan sebagai senjata untuk mendebat para alim ulama. Kita sekarang menjadikan pengetahuan yang kita kuasai untuk menundukkan ahli hikmah.
Bukan begitu, demi Allah sama-sekali bukan seperti itu. Mereka yang punya pengetahuan sangat banyak tentang agama sementara mereka hanya menggunakan ilmu itu semata untuk bahan perdebatan, diskusi dan memantapkan jawaban pada pertanyaan-pertanyaan dari kampus sama sekali tidak berharga dimata Allah. Mereka dilaknat karena ilmu yang mereka miliki. Dalam pandangan Allah dan Rasul, ilmu itu adalah pengetahuan yang diamalkan secara ikhlas. Mereka sama-sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan seorang yang awam namun selalu mengamalkan yang sedikit yang mereka ketahui.
Ilmu yang tidak diamalkan pemiliknya diumpamakan Jalaluddin Rumi persis seperti seorang wanita cantik dimiliki seorang pria impoten. Tidak berguna ilmunya kecuali sebagai modal mencari uang dalam memberi kuliah, mengisi seminar, menulis buku dan lainnya. Mereka persis seperti seorang ''mami'' di rumah bordir.
Abuya pernah berpesan bila berjumpa alim ulama maka ciumlah tangannya, dengarkan hikmak darinya, jangan mendebat. Pesan ini menyiratkan kepada kita untuk tidak menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk medebat alim ulama. Ulama tidak sama dengan akademisi yang sangat banyak pengetahuannya namun mereka seperti yang saya katakan tadi, pemilik rumah bordir. Ulama adalah ahli hikmah. Segenap ilmu yang mereka miliki dinisbatkan pada Allah, mereka jadikan sarana mendekatkan diri padaNya siang dan malam.
Kita mengenal Abuya sebagai sosok yang sangat baik ibadahnya. Beliau duduk ditempatnya tahiyatul akhir pada shalat subuh untuk berzikir dan wirid hingga menjelang siang sampai beliau selesai shalat dhuha. Dalam keseharian dan pengajian, Abuya selalu dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan para muridnya dengan singkat, bijak, penuh manfaat. Jawaban yang beliau berikanpun sangat mudah dipahami si penanya.
Hasrat akan ilmu Syaikh Muda terlihat saat beliau menunaikan ibadah haji. Berbarengan menunaikan rukun Islam ke lima itu beliau menyempatkan diri untuk sering berdiskusi dengan para alim ulama di Makkah dan Madinah serta menimba ilmu dengan mereka.
Terbesit keinginan Syaikh Muda untuk berangkat ke Mesir untuk menimba ilmu ke sana, namun teringat anak istri yang tidak bisa ditinggalkan serta para santri dan masyarakat di Aceh yang membutuhkan beliau, Syaikh urungkan niat itu. Karena anak adalah ''diri kita yang terlahir kembali'' maka cita-cita itu diteruskan putra beliau Abuya Mudibuddin Waly yang menamatkan Program Doktornya di tanah kelahiran Nabi Musa as itu.
Putra-putra Muda Waly menjadi penerus beliau mengemban amanah menjadi pencerah ummat. Mereka menjadi ulama yang disegani dan menjadi penerus pelita cahaya agama.
Kewibawaan dan kebijaksanaan Syaikh terbukti ketika beliau menziahari makan Nabi Besar Muhammad Saw. Kita tahu bahwa orang Arab Saudi yang mengikuti paham Wahabi sangat anti dengan yang ''berbau makam''. Tidak terkecuali dengan makam Nabi, mereka melarang pengunjung untuk dekat-dekat dengan makam Nabi. Sesiapa yang melanggar polisi penjaga akan melibas mereka. Ketika seorang polisi ingin melibas Abuya, dengan menggunakan bahasa Arab yang fasih, beliau diizinkan untuk berlama-lama duduk dekat makam manusia yang paling beliau cintai. Pada saat itu saya membayangkan betapa tersentuhnya hati Abuya berdekat-dengan kekasih hatinya junjungan beliau siang dan malam, shalawat dikirimkan ke atas Nabi. Kita tahu bahwa sesiapa yang mengirim shalawat atas Nabi akan mendapat syafaat beliau kelak di hari kiamat.
Hal ini yang membuat kita bingung melihat kaum Muhammadiyah yang menentang diadakan maulid memperingati hari kelahiran Nabi di mana di sana banyak dihaturkan puji-pujian dan shalawat atas Nabi. Ah, tampanya mereka bisa memberi syafaat untuk diri mereka sendiri di hari akhirat kelak. Atau, Ahmad Dahlankah yang diharapkan syafaatnya?
Abuya Muda Waly terlihat tidak suka dengan paham pembaruan Islam. Ternyata saat ini terbukti pembaruan itu tidak memberi manfaat atas kaum muslim dan dunia Islam. Paham pembaruan itulah yang telah merubah paradigma Islam dari agama pengamalan menjadi agama yang sifatnya pemikiran dan perdebatan belaka. Pembaruan Islam telah membuat kita tidak jauh beda dengan kaum orientalis yang mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang Islam lalu menggunakannya untuk kepentingan akademis semata.
''Kaum pembaru'' itu mengira penyebab kemunduraan Islam karena kaum muslim tidak memahami isi kandungan Al-Qur'an. Mereka sering menuduh kaum santri hanya pandai membaca Al-Qur'an sementara mereka sama-sekali tidak mengetahui artinya. Tuduhan ini mereka lontarkan seiring kader-kader Muhammadiyah yang suka membawa buku ''Al-Qur'an dan Terjemahannya'' ke mana-mana dan mereka sering membaca terjemahannya itu. Meski terlihat jarang membaca Al-Qur'an yang diturunkan Allah dalam bahasa Arab itu, mereka merasa lebih memahami Islam daripada kalangan santri yang gemar membaca kitab kuning yang mereka anggap kolot itu.
Mereka menuding kitab-kitab kuning adalah kolot, ketinggalan zaman, tidak relevan untuk zaman modern seperti sekarang. Padahal tuduhan itu hanyalah asumsi dan busuk hati. Mereka tidak tahu bahwa kitab kuning itu membicarakan persoalan Fiqih, Tauhid dan Tasawuf yang tidak mungkin ketinggalan untuk zaman manapun. Lagi pula eksplorasi mereka dangkal. Mereka tidak tahu bahwa kitab-kitab itu ditulis oleh ulama suka mengembara dan telah melihat situasi dan kondisi yang beragam. Kitab-kitab itu juga ditulis di tengah-tengah masyarakat yang metepolis seperti Baghdad abad ke-8 hingga ke 13 dan Kutaraja abad 14-17 di mana kedua kawasan itu adalah sentra kerajaan besar, tempat berlalu-lalangnya aktivitas sosial, ekonomi, politik dan sentra ilmu pengetahuan. Saya kira mempelajara dan mendalami kitab-kitab kuning membuat kita jauh lebih memahami Al-Qur'an dan Hadits daripada sekedar membaca terjemahan Al-Qur'an. Kalangan yang mengaku pembaharu perlu juga tahu bahwa isi-isi di dalam kitab kuning adalah uraian yang sangat komunikatif bagi masyarakat segala level intelektual atas kandungan Al-Qur'an dan Hadits. Menjelek-jelekkan orang lain memang telalu lancar pena kita dibuatnya, seperti yang sedang saya lakukan saat ini. Hihihi.
Tapi setidaknya pembaruan itu akan menyeret kaum muslim pada apa yang dikhawatirkan Nabi yaitu tiba masanya zaman fitnah di mana kita jadi ahli sufi pada pagi hari dan bermaksiat pada senjanya. Fenomena ini telah terlihat di kota-kota besar di mana masyarakat banyak mengikuti majelis zikir dan menjadi ''sufi kota'' namun maksiat dikerjakannya juga.
Fritjof Chapra (The Tao of Physics, 2009:44) mengatakan pengalaman mistik dan fisika subatomik adalah dua paradoks yang tidak bisa dikomunikasikan dengan bahasa verbal karena telah melampaui batas imajinasi manusia. Tasawuf, dengan segala keunikannya adalah bagian daripada fakta yang dikemukakan Chapra itu. Seorang sufi sama-sekali tidak mampu menjelaskan pengalaman mistiknya melalui kata-kata. Kadang-kadang mereka mengungkapkan hubungan antara sufi dengan Allah melalui perlambangan Hubungan antara sepasang insan yang sedang jatuh cinta. Meski demikian, segala perlambangan dan pengistilahan dari hal-hal yang di luar batas imajinasi dan nalar meski dikiaskan dalam bentuk apapun tetap saja tidak mampu menjadi representasi dari kenyataan yang sebenarnya.
Abuya Muda Waly adalah orang yang sangat santun perangai, baik budinya, rajin ibadah dan sangat menghormati orang lain. Beliau adalah pengikut tarikat Naqsyabandiyah. Saya melihat, pembahasaan terbaik daripada pengalaman mistik bukanlah dari penjelasan-penjelasan dengan kata-kata, tapi melalui sikap dan prilaku keseharian.
Fisikawan yang juga menghadapi persoalan yang sama dengan kaum sufi yakni kesulitan menginformasikan fakta-fakta subatomik yang mereka lihat dan telusuri dapat membahasakan pengalaman luar biasa itu melalui sikap dan kebijakan mereka terkait ilmu pengetahuan dan alam. Sikap, tingkah laku, keputusan dan kebijakan adalah penentu siapa dan seperti apakah kita sebenarnya.
Pada kesempatan yang lain saya telah mengatakan bahwa segala sesuatu sesuai dengan tingkah laku dan perbuatannya. Tindakan itu menentukan bentuk, bukan bentuk yang menentukan tindakan? Rene Descarter mengatakan pemikiranlah yang menentukan segalanya. Saya kira pernyataan yang lebih tepat adalah tindakan, bukan pikiran semata.
Para wali diberi karamah oleh Allah, misalnya bisa berjalan di atas air, bukan karena pikiran beliau yang merubah air agar tidak menenggelamkan melainkan karena kuatnya ibadah mereka dibarengi hati yang ikhlas. Nabi Ibrahim tidak terbakar api bukan semata pikiran beliau yang selalu mengingat Allah tapi juga karena ibadah serta sikap mulia yang beliau miliki.
Zaman pembaruan pemikiran sekarang ini terlalu mementingkan isi kepala dan apa yang dipikirkan. Manusia sekarang menganggap remeh perkara yang menyangkut perbutan, norma dan tingkah laku. Mereka terlalu mementingkan pengetahuan yang tinggi, ijazah yang banyak. Padahal jauh hari Nabi telah mengatakan adab itu di atas ilmu.
Penyebab mundurnya Islam bukan karena ummatnya kurang pengetahuan melainkan karena tidak lagi mengamalkan apa yang mereka ketahui. Mengupayakan kebangkitan kembali Islam bukan menjadikan kepala sebagai septic tank bagi segala macam pengetahuan. Meninggalkan segala perintah serta mengamalkan apa yang Allah perintahkan adalah satu-satunya cara agar ummat Islam kembali berjaya.
Penyebab kegelisahan hati manusia bukan karena kurang pengetahuannya melainkan karena semakin banyak yang ia ketahui semakin banyak dia ingkar. Yang diperlukan manusia adalah pengamalan yang khusyuk serta konsistensi mengamalkan apa yang telah mereka ketahui dibarengi keikhlasan menjalankannya. Wallahua'lam.
